Aku saat ini, adalah aku yang dulu di hari kemarin. Aku yang datang adalah kepunyaan di hari esok. Sulit untuk membuat garis demarkasi antara aku yang dulu, sekarang, dan akan datang. Akan tetapi jika kemudian muncul sejumlah renungan, refleksi sekaligus proyeksi, maka pertanyaannya mungkin bertutur, “apa ini yang terbaik buat aku? Pertanyaan ini terasa sulit untuk dijawab dalam rotasi waktu yang terus berputar.
Kalau pada akhirnya kuantitas pertanyaan terus bertambah tiap hari, tanpa satu pun ada yang meninggalkan jejak. Bukankah kualitas hidup selalu menjadi ujiannya. Dalam melepas rasa bersalah atas keteledoran, mengurai kata maaf atas kelalaian sebab dan akibat, meragukan kesetiaan atas pengkhiatan komitmen. Kesemuanya terkondisi yang datang sebagai sebab semua pengaruh. Boleh jadi pengaruh atas semua sebab.
Pada ‘akhirnya’ aku dengan ‘keakuan’, ‘kita’ dengan kekitaan’, manusia dengan ‘kemanusiaan’, hidup dengan kehidupan adalah “buah sejarah” yang terus membahana dalam hidup. Bukankah manusia dilahirkan dengan rasa ingin tahu, yang tak pernah terpuaskan. Dan kita semua mempunyai alat-alat yang kita perlukan untuk memuaskan dahaga jiwa yang tak berujung. Selaksa rahasia bentangan alam semesta menjadi tujuan tersembunyi sekaligus menjadi isyarat dari satu sumber ‘wujud’ yang selalu ada disetiap waktu dan disetiap tempat.
Sebagai manusia dengan motivasi dan dorongan spiritual, tujuan kita adalah mencoba meraih sebanyak mungkin cahaya.. Melalui interaksi-interaksi, relasi-relasi sosial, yang dapat mengubah energi menjadi cahaya. Namun harus diakui, secara samar dan tersembunyi kita memiliki standar tersendiri mengenai cahaya. Dan tiap-tiap diri diantara manusia secara samar punya caranya sendiri dalam mewujudkan makna cahaya itu. Interupsi nyanyian kerinduan manusia diam-diam membawaku melayang menuju lelangit ketuhanan, yang tak sebanding siang yang merindukan malam.