#navbarsecond { border-bottom: 1px solid gainsboro; height: 30px; padding-left: 50px; } #navbarsecond ul li { float: left; list-style-type: none; padding-right: 40px; font-size: 14px; }

Jumat, 26 September 2014

blur.....



Betapa tidak mudahnya soal pekerjaan rumah (PR) dibuat dalam notasi matematik. Ekspresi sebagai penanda sama dengan (=) atau ekivalen, telah menimbulkan kehebohan jagad maya (fb). Habibie, siswa kelas II SD di Semarang, hanya diberi nilai 20 oleh gurunya meski sudah dibantu oleh kakaknya, Erfas Maulana. Erfas menjadi perbincangan karena mengunggah PR matematika milik adiknya. Kasus PR dengan hasil sama dengan konsep berbeda, namun sang guru tetap memberi penilaian salah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ikut dibuat kaget, sampai Humas Kemendikbud, Ibnu Hamad, harus angkat bicara.

Matematika adalah mata pelajaran yang terstruktur, sistematis, logis. Tanpa perlu masif dan tentunya "pasti" walau terkadang kalau mempelajari lebih dalam sepertinya terdapat juga ketidakpastian. Maka mempelajari matematika hendaknya terstruktur, mulai dari yang dasar. Waktu SD Kita belajar penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Kenapa yang pertama diajarkan mengenai penjumlahan dan pengurangan, selanjutnya mengenai perkalian dan pembagian. Itulah maksud dari mempelajari matematika harus terstruktur dan sistematis. Dengan mempelajari penjumlahan dan pengurangan terlebih dahulu, kita akan mendapatkan pemahaman mengenai perkalian dan pembagian. 

Sekolah-sekolah berlomba melatih siswa dalam kemampuan berhitung. Tahapan di kembangkan ke penerapan, analisis dan juga sintesis, tetapi jarang diterapkan. Manusia dalam melakukan pekerjaannya selalu mendampakan penemuan pengetahuan yang benar. “Namun karena kedhaifan manusia, walau ia sudah memiliki ketinggian akal dan budinya, segala sesuatu hasil pengamatan dan perenungan manusia itu selalu saja adalah “kebenaran” oleh alat ukur yang dipikirkan dan diciptakan manusia itu sendiri” ungkap Andi Hakim Nasution. Dunia pendidikan sebagai sistem yang terkelola profesional dan pertanggung-jawaban secara karakter yang detail hingga koin terkecil, terlupakan perannya di kurikulum 2013.

Harus diakui sampai sekarang ini selalu muncul pertanyaan apakah SD perlu di ajarkan matematika atau cukup berhitung seperti zaman dulu. Mematok pelajaran matematika terbatas pada berhitung mengikuti pola lama, hanya membuat siswa dilatih untuk tidak mengenali dan menguasai kemampuan bernalar. Namun gaya lama mengambil massa mengambang cukup menguntungkan dalam suatu perayaan PEMILU. Pola lama ini abai untuk melek angka. Lembaga survey telah memilih waktu yang paling senyap untuk mengformulasikan angka-angka. Lidah para pengamat meninggalkan basah berceceran untuk membaca angka-angka itu. Mungkin kehebohan seperti ini, akan selalu ada, bahkan menjadi perdebatan dengan setting drama kepentingan di suatu tempat di Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU). Kalau perlu berlanjut di Gedung MK.

Sekolah adalah ruang belajar yang beriringan huruf dan angka. Habibie dan Erfas sekedar contoh, dua orang adik-kakak yang kesulitan mengurai kealfaan kurikulum, Semua kehebohannya juga menjadi catatan kelam kehidupan perpolitikan bangsa ini. Jangankan menguasai kemampuan bernalar, kita belum mampu menghitung jumlah suara secara benar dalam setiap pemilu. Gambaran blur dunia pendidikan patut ditengarai mewarnai struktur kehidupan dalam bayang-bayang kegelapan. Meski tak dipungkiri gelap itu juga tidak ada. Gelap hanyalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Namun cahaya bisa kita pelajari, tetapi gelap tidak. Manusialah mendeskripsikan gelap, karena ketiadaan cahaya. Tuhan pun tidak mencipta kegelapan. Karena kegelapan adalah manifestasi tidak hadirnya Tuhan di hati manusia.


Wahyuddin Junus, Pemerhati Lingkungan/Penggiat Diskusi Masika ICMI Sulsel
tulisan ini dapat juga dilihat di makassar trend ..blur....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar