![]() | |
| Ilustrasi Keindahan Seni Kamuflasi yang Kreatif (sumber: http://newoldinfo.blogspot.com) |
Lelah.
Diam-diam mulai merasuk. Saat waktu telah membuka celah penyemangat. Beberapa kali aku coba bangkit. Berusaha meyakinkan diri. Segala bentuk persiapan dan perencanaan hidup coba disusun. Aku tak lupa membawa semua angan dan harapan, coba melintas dan berkunjung ke samudera pemikiran.
Satu, dua kali kurasakan putus asa, cemas dan takut, datang bergerombol garang. Datang dengan tenang mengejek hingga mampu merajai batok kepala. Pada sang Mentari saat itu, langit menunjukkan kemuraman-nya di antara pekatnya awan membungkus durja harapan yang mengusik perasaan.
“Terkadang tak semua lancar. Tak ada guna berkeluh kesah,” pikirku membatin.
Sumbangsih, jejak mitos, idealitas, romantisme terkadang mengembangkan diri, secara mandiri, namun tak cukup dikontrol oleh realitas. Pemikiran-pemikiran awal melangkah begitu maju, meski terkadang meninggalkan kaki yang terangtuk oleh roda kenyataan hidup.
Perseteruan batin menjadi menu harian bak kisah naskah dialog. Kerap kali tercipta dan menjebak rutinitas. Beberapa kalimat datang gonta-ganti menelorkan pandangan dan cara pandang berbeda.
“Tak ada manusia yang sempurna.”
“Tapi itu tak berarti tak berharga.”
“Bukankah kita hidup dalam dunia yang penuh hipotesa tentang masa depan, di mana hanya prinsip-prinsip estetika yang memiliki konsistensi yang bisa kita pegang.”
Kita pada gilirannya akan terus berjalan mempertanyakan posisi benar dan salah, berjalan untuk menciptakan dan mempertahankan keseimbangan moral. Lantas, dari beberapa orang tak bisa menghadapi kenyataan.
Di saat tekadku surut, ada saja yang mengirimkan nada kepedulian. Meski, sewaktu-waktu ia bisa saja ditelan bumi, bersenyawa dengan apa saja yang ditemuinya. Upaya penyusupan kehendak yang terbentuk dalam otak besar dan kecil, diam-diam menerima sebagai keindahan. Lebih tepatnya kamuflase keindahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar