![]() |
| Ilustrasi |
Dalam
pemungutan pandangan Gallup dalam tahun 1984 menemukan bahwa 55 persen remaja
meyakini bahwa antropologi berhasil. Dalam abad perantara kita berbicara dengan
nenek moyang, yang telah lama tiada, penculikan oleh piring terbang dua minggu
sekali, dan sejumlah dukun yang memancarkan semua jenis nonsen Abad Baru.
Pendeknya, dunia masa kini adalah dunia teknologi tinggi dan sekaligus
kemunduran ke jenis yang paling primitif dari takhyul kebodohan.
Tak
dipungkiri sains memberikan banyak kemudahan dan sekaligus memanjakan manusia.
Dengan terus berakumulasi dan mengadakan infiltrasi, sains di era modern ini
telah mengalami keterputusan dari sumber kesuciaannya. Seperti yang disinyalir
oleh Prof. Dr. Bayraktar Bayrakli.
Tragedi
hilangnya MH370 pesawat Malaysia Airlines, menempatkan dukun dalam posisi
teranyar. Upaya membuka tabir yang menyelimuti kemajuan teknologi dirgantara.
Ruang misteri ini telah dirumuskan dalam konsep kuantum. Apa sesungguhnya yang
sedang terjadi? Di manakah kuantum itu terjadi?
Dibanding
dunia barat, dunia timur sesungguhnya mengenal hukum paradoks lebih awal. Salah
satu hukum dalam teori kuantum adalah hukum paradoks. Namun tak dipungkiri
khazanah barat yang unggul dalam riset dan eksperimentasi. Relasi ini pantas
disematkan, bicara pesawat bukan sekadar teknologi, produksi lalu jual. Rasanya butuh
pembuktian yang paradoks juga, diluar wacana terorisme atau pun isu pembajakan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar