Dijamannya,
Gus Dur berani tampil beda. Menyapa dan bersuara lebih sering di posisi
lawan arah. Cak Nun piawai dalam mengulas fenomena, sehingga tulisannya
selalu ternantikan di minggu-minggu yang ada. Idenya genit, melambung
sampai ke awang-uwung, menyentuh dinding hati dan pasti bersimbah
keteduhan bagi yang tersapanya. Amien Rais menghentak tatanan, seolah
membuat keruh padahal sejatinya diapun ihlas pulang tanpa membawa
bingkisan apapun. Sementara hasil hentakannya tanpa tersadari menjadi
pundi-pundi keberhasilan di lain pihak. Rendra apalagi, sebait yang
diucapnya menjadi ulasan hidup yang ada. Mengepak-kepak sayap tetap
harum dan wibawa.
Ingin rasanya menyebut satu persatu dari beliau yang telah mampu memainkan gaya berpikir anti kemapanan, anti mainstream, yang kokoh melawan arus.
Semoga tiga contoh sosok di atas cukup sudah menjadi peniup ingatan
jika beliau berkibar karena berada dalam koridor kesetaraan hati.
Maksudnya, jelas dalam melangkah, tepat bidikannya, bersuara tetapi
jernih yang disuarakan. Jernih, karena jelas sasarannya, jelas
targetnya, selalu tersambut dengan manisnya setiap hentakan langkahnya.
Benar-benar telah mampu mempermainkan arti anti mainstream sesungguhnya.
Anti mainstream sah adanya dan banyak terbukti berangkat dari “sintalnya”
berfikir itu menjadi inspirasi gerak perjuangan bangsa bahkan peradaban
hidup. Anti mainstream adalah keniscayaan budaya pikir, terengkuh dalam
koridor kesefahaman aturan. Anti mainstream menyengat, membakar, tetapi
meneduhkan.
Karena
anti mainstream tidak melupakan harga diri diluar dirinya. Karena anti
mainstream mempersilahkan roda hidup berjalan, tidak untuk merubah
apalagi membalikkan arah. Anti mainstream tidak mengenal penghantaman
figur dan sosok, karena sasaran yang paling disukainya adalah kebobrokan
birokrasi dan pongahnya penguasa!
Apa
jadinya jika anti mainstream sudah terpola dan mengerucut. Ditunggangi
dan sering berkelit-kelit. Memanggil-manggil kebebasan tetapi
menghimpit. Menghebatkan satu sisi dengan menyempurnakan kebencian ke
sisi lain. Bergerak tanpa lagi melihat norma dan aturan yang ada.
Sayang
sekali, potensi anti mainstream yang begitu hebatnya hanya diskalakan
untuk diri dan kelompok yang ada, tidak untuk dilemparkan agar diberi
ruang dan kesempatan menyulam bentuk lain agar semakin membaik bagi
semua. Sayangnya, pola pikir yang semestinya bertengger dalam singgasana
emas keteduhan hati, harus selalu membuat bara di huma lain. Sayangnya,
ini semakin menggejala dan berputar-putar tanpa arah. Padahal hidup
adalah pasti, tertata di dunia, selamat di hidup selanjutnya.
Tulisan
ini hanyalah sapa dari yang merindukan sosok-sosok yang kemarin telah
tuntas dalam memerankan tokoh yang kontroversial. Kontroversial dalam
segala dimensi dan telah tercatat oleh masa sebagai pelukis khazanah
hidup di jamannya.
Anti
mainstream, gaya manis berpikir yang bisa merajut cinta sesama untuk
perbaikan hidup bersama. Tidak ada yang tersakiti, tidak perlu menyakiti
dan tidak mengharap puja-puji, apalagi pengkultusan harga diri. Karena
anti mainstream hanya dimiliki oleh mereka-mereka yang sudah teruji akan
ragam wacana. Maka, jika anti masinstream hanyalah bungkus saja, maka
seukuran itulah wacana dalam pikirnya. Hanya yang dibungkus dan yang dibungkus!
Sumber:
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2014/02/12/anti-mainstream-kok-begitu-sih-631341.html
Akhmad Fauzi Praktisi pendidikan yang sedang memulai belajar untuk menjadi pemerhati sosial dan pendidikan lewat tulisan-tulisan (artikel, puisi, drama). Lahir 41 tahun silam di 25 km sebelah selatan dari pusat kota kabupaten (Jember). Dikarunia tiga orang putri, bersama istri tercinta sekarang (berlima) hidup merajut sisa hidup yang Tuhan berikan untuk MENGUPAYAKAN MENGENALKAN DIRI JIKA MEMILIKI HATI. BERSAMANYA GERAK LANGKAH HIDUP BAK ORKESTRA DENGAN NADA DASAR ABADI "ENERGI POSITIF". Itulah visi yang ada, semua hanya untuk ibadah!
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2014/02/12/anti-mainstream-kok-begitu-sih-631341.html
Akhmad Fauzi Praktisi pendidikan yang sedang memulai belajar untuk menjadi pemerhati sosial dan pendidikan lewat tulisan-tulisan (artikel, puisi, drama). Lahir 41 tahun silam di 25 km sebelah selatan dari pusat kota kabupaten (Jember). Dikarunia tiga orang putri, bersama istri tercinta sekarang (berlima) hidup merajut sisa hidup yang Tuhan berikan untuk MENGUPAYAKAN MENGENALKAN DIRI JIKA MEMILIKI HATI. BERSAMANYA GERAK LANGKAH HIDUP BAK ORKESTRA DENGAN NADA DASAR ABADI "ENERGI POSITIF". Itulah visi yang ada, semua hanya untuk ibadah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar