#navbarsecond { border-bottom: 1px solid gainsboro; height: 30px; padding-left: 50px; } #navbarsecond ul li { float: left; list-style-type: none; padding-right: 40px; font-size: 14px; }

Minggu, 09 Maret 2014

Anti Mainstream Kok Begitu, Sih!

Dijamannya, Gus Dur berani tampil beda. Menyapa dan bersuara lebih sering di posisi lawan arah. Cak Nun piawai dalam mengulas fenomena, sehingga tulisannya selalu ternantikan di minggu-minggu yang ada. Idenya genit, melambung sampai ke awang-uwung, menyentuh dinding hati dan pasti bersimbah keteduhan bagi yang tersapanya. Amien Rais menghentak tatanan, seolah membuat keruh padahal sejatinya diapun ihlas pulang tanpa membawa bingkisan apapun. Sementara hasil hentakannya tanpa tersadari menjadi pundi-pundi keberhasilan di lain pihak. Rendra apalagi, sebait yang diucapnya menjadi ulasan hidup yang ada. Mengepak-kepak sayap tetap harum dan wibawa.

Ingin rasanya menyebut satu persatu dari beliau yang telah mampu memainkan gaya berpikir anti kemapanan, anti mainstream, yang kokoh melawan arus. Semoga tiga contoh sosok di atas cukup sudah menjadi peniup ingatan jika beliau berkibar karena berada dalam koridor kesetaraan hati. Maksudnya, jelas dalam melangkah, tepat bidikannya, bersuara tetapi jernih yang disuarakan. Jernih, karena jelas sasarannya, jelas targetnya, selalu tersambut dengan manisnya setiap hentakan langkahnya. Benar-benar telah mampu mempermainkan arti anti mainstream sesungguhnya.

Anti mainstream sah adanya dan banyak terbukti berangkat dari “sintalnya” berfikir itu menjadi inspirasi gerak perjuangan bangsa bahkan peradaban hidup. Anti mainstream adalah keniscayaan budaya pikir, terengkuh dalam koridor kesefahaman aturan. Anti mainstream menyengat, membakar, tetapi meneduhkan.

Karena anti mainstream tidak melupakan harga diri diluar dirinya. Karena anti mainstream mempersilahkan roda hidup berjalan, tidak untuk merubah apalagi membalikkan arah. Anti mainstream tidak mengenal penghantaman figur dan sosok, karena sasaran yang paling disukainya adalah kebobrokan birokrasi dan pongahnya penguasa! 

Apa jadinya jika anti mainstream sudah terpola dan mengerucut. Ditunggangi dan sering berkelit-kelit. Memanggil-manggil kebebasan tetapi menghimpit. Menghebatkan satu sisi dengan menyempurnakan kebencian ke sisi lain. Bergerak tanpa lagi melihat norma dan aturan yang ada.

Sayang sekali, potensi anti mainstream yang begitu hebatnya hanya diskalakan untuk diri dan kelompok yang ada, tidak untuk dilemparkan agar diberi ruang dan kesempatan menyulam bentuk lain agar semakin membaik bagi semua. Sayangnya, pola pikir yang semestinya bertengger dalam singgasana emas keteduhan hati, harus selalu membuat bara di huma lain. Sayangnya, ini semakin menggejala dan berputar-putar tanpa arah. Padahal hidup adalah pasti, tertata di dunia, selamat di hidup selanjutnya.

Tulisan ini hanyalah sapa dari yang merindukan sosok-sosok yang kemarin telah tuntas dalam memerankan tokoh yang kontroversial. Kontroversial dalam segala dimensi dan telah tercatat oleh masa sebagai pelukis khazanah hidup di jamannya. 

Anti mainstream, gaya manis berpikir yang bisa merajut cinta sesama untuk perbaikan hidup bersama. Tidak ada yang tersakiti, tidak perlu menyakiti dan tidak mengharap puja-puji, apalagi pengkultusan harga diri. Karena anti mainstream hanya dimiliki oleh mereka-mereka yang sudah teruji akan ragam wacana. Maka, jika anti masinstream hanyalah bungkus saja, maka seukuran itulah wacana dalam pikirnya. Hanya yang dibungkus dan yang dibungkus!

Sumber:
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2014/02/12/anti-mainstream-kok-begitu-sih-631341.html 

Akhmad Fauzi Praktisi pendidikan yang sedang memulai belajar untuk menjadi pemerhati sosial dan pendidikan lewat tulisan-tulisan (artikel, puisi, drama). Lahir 41 tahun silam di 25 km sebelah selatan dari pusat kota kabupaten (Jember). Dikarunia tiga orang putri, bersama istri tercinta sekarang (berlima) hidup merajut sisa hidup yang Tuhan berikan untuk MENGUPAYAKAN MENGENALKAN DIRI JIKA MEMILIKI HATI. BERSAMANYA GERAK LANGKAH HIDUP BAK ORKESTRA DENGAN NADA DASAR ABADI "ENERGI POSITIF". Itulah visi yang ada, semua hanya untuk ibadah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar