Di Setiap
tempat, perbincangan politik selalu membadai. Selaksa menikmati kopi, pahit
namun enak. Buat saya ditambah susu, makin sip. Apalagi jika politisi ikut di
dalamnya. Sebuah pijakan rasional patut dikemukakan di sini bahwa politisi
(baca: caleg) selalu merasuki suasana ajang keramaian atau sekadar kongkow. Tak ingin melewatkan momen
berharga demi sosialisasi. Seperti matahari dengan sigap menyapa pagi.
Tradisi
minum kopi bersama pernah terekam dalam aktivitas Presiden RI pertama, Ir.
Soekarno. Untuk dekat dengan rakyat Soekarno pun ikut ngopi sambil mendengar
keluhan rakyatnya. Karena suasana egaliter yang tercipta membuat komunikasi
bisa terpenuhi dari kedua pihak. Tanpa sekat yang membatasi. Ini pula yang
membuat pejabat publik dan politisi kerap menyambangi tempat-tempat santai
untuk sekadar ngopi.
Jelang
pemilihan caleg (pileg) seperti saat ini, maka dengan mudah menemukan politisi
di antara pengunjung di warung-warung kopi. Di Makassar, tempatnya dikenal
sebagai Warkop. Dari sekian banyak warkop yg ada telah menstimulir strata
sosial menyatu dan mengesamping batas yang ada. Maka ditemukan bermunculan
warkop berbasis ormas/parpol di Makassar. Menjamurnya warkop-warkop yang ada
disinyalir mulai bermunculan saat penghelatan pemilihan Gubernur Sulawesi
Selatan tahun lalu.
Keberadaan
warkop-warkop punya daya tari tersendiri. Kehadirannya dipenuhi lewat
komunitas-komunitas penggila bola dengan ngopi sambil nonton bareng. Warkop telah punya menjadi tempat mencari
berita bagi para jurnalis media, baik media lokal maupun nasional.. Celah ini
menjadikan wahana bagi pejabat publik dan politisi unjuk diri. Maka dengan
mudah ditemukan warkop menjadi tempat kegiatan forum-forum diskusi publik.
Termasuk konferensi pers, karena jurnalis juga menjadi pelanggan setia warkop.
Ketersediaan warkop sebagai wahana
pendidikan politik, tetap saja mengambil jarak. Politisi dengan jargon berikut
visi misinya dan masyakat dengan pikirannya. Namun seduhan kopi telah membuat
mereka bersepakat, aroma kopi itu jujur. Tidak dibuat-buat apalagi direkayasa.
Menikmati segelas kopi sambil merasakan ekspresi senyum para caleg. Meski
kadang fragmen politiknya sulit diraba. Paling tidak senyum para caleg lewat baliho akan
diuji dan akan terlihat siapa yang benar-benar tersenyum.
Teksture politik yang memanfaatkan
gesture keluguan tidak terlalu nampak. Namun bahasa peng-iba kerap menjadi
ucapan pemanis, semacam : bantuka dulue,
bantuka kodong, kita mami yang bisa bantuka. Meski tidak semua menghinggapi caleg, paling
tidak saat ini, pertemanan menjadi begitu istimewa. Minum kopi
pun jadi terasa istimewa.
Terakhir
saya ingin mengutip Burhanuddin Muhtadi via twitter-nya. Dia pernah menuliskan:
‘negarawan memperlakukan kekuasaan sebatas air tawar, cukup utk melepas
dahaga’. Maka politisi memperlakukan kekuasaan laksana minum kopi susu.
Merasakan pahit dan manisnya bersama-sama. Itulah kenikmatan minum kopi bersama
politisi. Untuk tidak menciptakan kegaduhan politik tanpa makna, maka bolehlah
saya menuliskannya sambil ditemani secangkir kopi susu. Aroma kopi itu jujur
diminum politisi sekalipun.
Salam hangat
Wahyuddin
Junus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar