Aku saat ini, adalah aku yang dulu di hari kemarin. Aku yang datang adalah kepunyaan di hari esok. Sulit untuk membuat garis demarkasi antara aku yang dulu, sekarang, dan akan datang. Akan tetapi jika kemudian muncul sejumlah renungan, refleksi sekaligus proyeksi, maka pertanyaannya mungkin bertutur, “apa ini yang terbaik buat aku? Pertanyaan ini terasa sulit untuk dijawab dalam rotasi waktu yang terus berputar.
Kalau pada akhirnya kuantitas pertanyaan terus bertambah tiap hari, tanpa satu pun ada yang meninggalkan jejak. Bukankah kualitas hidup selalu menjadi ujiannya. Dalam melepas rasa bersalah atas keteledoran, mengurai kata maaf atas kelalaian sebab dan akibat, meragukan kesetiaan atas pengkhiatan komitmen. Kesemuanya terkondisi yang datang sebagai sebab semua pengaruh. Boleh jadi pengaruh atas semua sebab.
Pada ‘akhirnya’ aku dengan ‘keakuan’, ‘kita’ dengan kekitaan’, manusia dengan ‘kemanusiaan’, hidup dengan kehidupan adalah “buah sejarah” yang terus membahana dalam hidup. Bukankah manusia dilahirkan dengan rasa ingin tahu, yang tak pernah terpuaskan. Dan kita semua mempunyai alat-alat yang kita perlukan untuk memuaskan dahaga jiwa yang tak berujung. Selaksa rahasia bentangan alam semesta menjadi tujuan tersembunyi sekaligus menjadi isyarat dari satu sumber ‘wujud’ yang selalu ada disetiap waktu dan disetiap tempat.
Sebagai manusia dengan motivasi dan dorongan spiritual, tujuan kita adalah mencoba meraih sebanyak mungkin cahaya.. Melalui interaksi-interaksi, relasi-relasi sosial, yang dapat mengubah energi menjadi cahaya. Namun harus diakui, secara samar dan tersembunyi kita memiliki standar tersendiri mengenai cahaya. Dan tiap-tiap diri diantara manusia secara samar punya caranya sendiri dalam mewujudkan makna cahaya itu. Interupsi nyanyian kerinduan manusia diam-diam membawaku melayang menuju lelangit ketuhanan, yang tak sebanding siang yang merindukan malam.
Sabtu, 18 Desember 2010
Minggu, 21 November 2010
Teori Kuantum & Teleportasi oleh Yuliadi Ajigo
Sebagai rumusan dasar dalam ilmu sains, rumusan Newton, F=m.a, memberikan pengaruh dan kegunaan yang cukup besar. Kehadiran rumusan hukum kekekalan energi dan momentum, misalnya, tidak lain dikembangkan dari rumus dasar Newton.Berdasarkan rumusan Newton pula maka berkembang ilmu optika klasik, mekanika, dan mesin-mesin. Buah dari karya besar Newton itu antara lain termanifestasi dalam peradaban mesin-mesin industri. Sir Issac Newton dapat diakui sebagai ilmuwan besar abad 17 hingga abad 20.
Akan tetapi, dengan berawal dari ketidakpuasan para ilmuwan terhadap rumusan Newton untuk menjelaskan dinamika elektron-struktur atomik-maka berkembanglah teori baru. Berawal dari tesis Albert Einstein melalui rumusan E= mc2, lebih lanjut menjadi arahan bagi para ilmuwan untuk dapat memodelkan dinamika elektron dengan lebih tepat. Dari rumusan Einstein, ternyata terbukti bahwa rumusan Newton pada dasarnya merupakan pendekatan dari rumusan E=mc2. Hal ini terjadi karena dinamika gerak partikel masif adalah << (baca: jauh lebih kecil dari) kecepatan cahaya, c. Dengan kata lain, rumusan F=m.a adalah pendekatan dari E=mc2. Namun, kehadiran rumusan Einstein tidak secara otomatis meniadakan hukum-hukum yang dikembangkan berdasarkan Newton.
Seiring dengan pembuktian Einstein dan kawan-kawan dalam bidang fisika ini, maka berkembanglah cabang ilmu Fisika Kuantum. Dari namanya kuantum diambil dari kuanta-energi yang dipancarkan oleh loncatan elektron. Lebih lanjut, Scrodinger berhasil memberikan rumusan peluang elektron untuk dapat melakukan terobosan pada suatu dinding penghalang. Lebih lanjut, kuantum ini dimodelkan melalui sumur-sumur kuantum. Pada sumur itu digambarkan elektron yang hendak menembus dinding sumur pembatas dengan probabilitas tertentu.
Telepati dan teleportasi
Jika 14 abad yang lalu umat Islam meyakini peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad, maka teori kuantum memberikan arahan yang berarti untuk menjelaskan fenomena aneh itu. Bahkan untuk fenomena telepati, sihir, pengobatan jarak jauh, dan teleportasi.
Meditasi Anand Krisna, misalnya, jika kita perhatikan tidak lain mengikuti konsep kuantum. Dengan melakukan penenangan batin serta diikuti ritme goyangan tubuh berirama, seseorang akan mengalami "kepuasan" tertentu. Teknik ini juga sering dilakukan pada penyembuhan alternatif dengan menggunakan energi prana, chi. Jika kita melihat sebentar pada pondok-pondok salaf, kita perhatikan para santri yang berzikir sambil goyang kepala. Juga dikisahkan, para waliullah dan kiai dapat terbang dengan kecepatan kilat.
Apa sesungguhnya yang sedang terjadi? Di manakah kuantum itu terjadi? Teori kuantum menjelaskan fenomena loncatan elektron (kuanta-kuanta energi) suatu partikel yang mengalami eksitasi, yang diakibatkan oleh pengaruh getaran, pemanasan, atau pemancaran. Efek fotolistrik dan Compton menjelaskan hal ini. Pada kasus logam yang dipanasi, ia dapat memancarkan elektron. Logam yang disinari, terjadi kuantum. Hal ini menyebabkan perubahan struktur atomik suatu partikel tertentu. Perubahan itu melibatkan pemindahan elektron yang sekaligus memancarkan energi foton. Pendek kata, fenomena di atas terjadi karena transfer energi elektromagnetik.
Richard Feyman, ilmuwan Amerika Serikat yang berhasil memenangkan Nobel Fisika atas temuannya, membuktikan bahwa suatu partikel masih dapat dipindahkan menembus batas dinding partikel tanpa mengalami kerusakan. Pada kesempatan yang lain, Dr Ivan Geiver (pemenang Nobel Fisika) dari Amerika juga semakin menguatkan khazanah ilmu kuantum ini.
Temuan Feyman dan Geiver ini memberikan pengertian kepada kita bahwa teleportasi-perpindahan fisik seseorang yang menembus ruang pembatas-adalah rasional. Begitu pula dengan Isra' Mi'raj. Jika seseorang sudah dapat melakukan suatu perlakuan khusus terhadap dirinya sampai batas energi ambang, maka orang tersebut memungkinkan mengalami derajat emanasi, eksitasi, atau kuantum. Sama persis dengan energi ambang yang dibutuhkan suatu logam untuk dapat melakukan kuantum.
Manifestasi dari kuantum ini adalah memungkinkan seseorang ini mengirimkan sinyal jarak jauh, sinyal yang berupa medan elektromagnetik. Jika dapat mengubah partikel diri seolah menjadi susunan-susunan elektron yang tereksitasi, maka terjadilah loncatan secepat cahaya. Maka, tukar informasi-telepati-terjadi. Lihat juga peristiwa kirim energi melalui televisi pada acara mingguan Dedy Corbuzier. Jika kejadian ini sampai melibatkan pemindahan fisik tubuhnya, maka orang ini mencapai derajat teleportasi.
Dari sudut pandang teori kuantum ini maka jelaslah bahwa tabir Isra' Mi'raj, telepati, teleportasi; sudah mendapatkan penjelasan fisik. Artinya, sebagian besar orang yang tidak mengakui fenomena ini-karena alasan tidak ada bukti fisiknya-dewasa ini sudah terbantahkan. Hal yang dulu dianggap metafisika dan gaib, berdasarkan teori kuantum telah mendapatkan pembenaran fisik. Senada dengan teori kuantum, maka teknik goyang ritmis berirama pada ritual meditasi, zikir, serta pengobatan alternatif.
Teknik goyangan tubuh berirama pada dasarnya merupakan cara untuk memicu eksitasi eletron tubuh kita agar dapat memancarkan gelombang cahaya dengan frekuensi tertentu. Jika teknik goyangan ini cukup kuat dan kontinu sampai derajad energi ambang terlampui.
Dari sudut pandang ilmiah, maka kita semakin meyakini bahwa ilmu-ilmu fisik (fisika) dewasa ini sudah menyatu dengan dimensi gaib dan spiritualitas. Jika kita sempat membaca tulisan Frictof Capra pada bukunya Titik Balik Peradaban, terang sudah bahwasanya khazanah ilmu barat dan timur dewasa ini sudah dalam tahap penyatuan. Khazanah barat yang unggul dalam riset, eksperimentasi, dan rasionalitas; serta timur yang lebih dominan dalam aspek spiritualitas.
Oleh karena itu, era pasca-Einstein telah menjadi pembuka tabir penyatuan paradigma timur dan barat. Dan, kuantum adalah laksana jembatan antara peradaban timur dan barat. Kuantum yang secara empiris ditemukan pada abad 20, maka di dunia timur sudah mengakar cukup kuat sejak peradaban Cina Kuno dan India Kuno, 25 abad yang lalu. Dunia timur mengenal hukum paradoks lebih awal. Kita tahu, salah satu hukum dalam teori kuantum adalah hukum paradoks.
Akan tetapi, dengan berawal dari ketidakpuasan para ilmuwan terhadap rumusan Newton untuk menjelaskan dinamika elektron-struktur atomik-maka berkembanglah teori baru. Berawal dari tesis Albert Einstein melalui rumusan E= mc2, lebih lanjut menjadi arahan bagi para ilmuwan untuk dapat memodelkan dinamika elektron dengan lebih tepat. Dari rumusan Einstein, ternyata terbukti bahwa rumusan Newton pada dasarnya merupakan pendekatan dari rumusan E=mc2. Hal ini terjadi karena dinamika gerak partikel masif adalah << (baca: jauh lebih kecil dari) kecepatan cahaya, c. Dengan kata lain, rumusan F=m.a adalah pendekatan dari E=mc2. Namun, kehadiran rumusan Einstein tidak secara otomatis meniadakan hukum-hukum yang dikembangkan berdasarkan Newton.
Seiring dengan pembuktian Einstein dan kawan-kawan dalam bidang fisika ini, maka berkembanglah cabang ilmu Fisika Kuantum. Dari namanya kuantum diambil dari kuanta-energi yang dipancarkan oleh loncatan elektron. Lebih lanjut, Scrodinger berhasil memberikan rumusan peluang elektron untuk dapat melakukan terobosan pada suatu dinding penghalang. Lebih lanjut, kuantum ini dimodelkan melalui sumur-sumur kuantum. Pada sumur itu digambarkan elektron yang hendak menembus dinding sumur pembatas dengan probabilitas tertentu.
Telepati dan teleportasi
Jika 14 abad yang lalu umat Islam meyakini peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad, maka teori kuantum memberikan arahan yang berarti untuk menjelaskan fenomena aneh itu. Bahkan untuk fenomena telepati, sihir, pengobatan jarak jauh, dan teleportasi.
Meditasi Anand Krisna, misalnya, jika kita perhatikan tidak lain mengikuti konsep kuantum. Dengan melakukan penenangan batin serta diikuti ritme goyangan tubuh berirama, seseorang akan mengalami "kepuasan" tertentu. Teknik ini juga sering dilakukan pada penyembuhan alternatif dengan menggunakan energi prana, chi. Jika kita melihat sebentar pada pondok-pondok salaf, kita perhatikan para santri yang berzikir sambil goyang kepala. Juga dikisahkan, para waliullah dan kiai dapat terbang dengan kecepatan kilat.
Apa sesungguhnya yang sedang terjadi? Di manakah kuantum itu terjadi? Teori kuantum menjelaskan fenomena loncatan elektron (kuanta-kuanta energi) suatu partikel yang mengalami eksitasi, yang diakibatkan oleh pengaruh getaran, pemanasan, atau pemancaran. Efek fotolistrik dan Compton menjelaskan hal ini. Pada kasus logam yang dipanasi, ia dapat memancarkan elektron. Logam yang disinari, terjadi kuantum. Hal ini menyebabkan perubahan struktur atomik suatu partikel tertentu. Perubahan itu melibatkan pemindahan elektron yang sekaligus memancarkan energi foton. Pendek kata, fenomena di atas terjadi karena transfer energi elektromagnetik.
Richard Feyman, ilmuwan Amerika Serikat yang berhasil memenangkan Nobel Fisika atas temuannya, membuktikan bahwa suatu partikel masih dapat dipindahkan menembus batas dinding partikel tanpa mengalami kerusakan. Pada kesempatan yang lain, Dr Ivan Geiver (pemenang Nobel Fisika) dari Amerika juga semakin menguatkan khazanah ilmu kuantum ini.
Temuan Feyman dan Geiver ini memberikan pengertian kepada kita bahwa teleportasi-perpindahan fisik seseorang yang menembus ruang pembatas-adalah rasional. Begitu pula dengan Isra' Mi'raj. Jika seseorang sudah dapat melakukan suatu perlakuan khusus terhadap dirinya sampai batas energi ambang, maka orang tersebut memungkinkan mengalami derajat emanasi, eksitasi, atau kuantum. Sama persis dengan energi ambang yang dibutuhkan suatu logam untuk dapat melakukan kuantum.
Manifestasi dari kuantum ini adalah memungkinkan seseorang ini mengirimkan sinyal jarak jauh, sinyal yang berupa medan elektromagnetik. Jika dapat mengubah partikel diri seolah menjadi susunan-susunan elektron yang tereksitasi, maka terjadilah loncatan secepat cahaya. Maka, tukar informasi-telepati-terjadi. Lihat juga peristiwa kirim energi melalui televisi pada acara mingguan Dedy Corbuzier. Jika kejadian ini sampai melibatkan pemindahan fisik tubuhnya, maka orang ini mencapai derajat teleportasi.
Dari sudut pandang teori kuantum ini maka jelaslah bahwa tabir Isra' Mi'raj, telepati, teleportasi; sudah mendapatkan penjelasan fisik. Artinya, sebagian besar orang yang tidak mengakui fenomena ini-karena alasan tidak ada bukti fisiknya-dewasa ini sudah terbantahkan. Hal yang dulu dianggap metafisika dan gaib, berdasarkan teori kuantum telah mendapatkan pembenaran fisik. Senada dengan teori kuantum, maka teknik goyang ritmis berirama pada ritual meditasi, zikir, serta pengobatan alternatif.
Teknik goyangan tubuh berirama pada dasarnya merupakan cara untuk memicu eksitasi eletron tubuh kita agar dapat memancarkan gelombang cahaya dengan frekuensi tertentu. Jika teknik goyangan ini cukup kuat dan kontinu sampai derajad energi ambang terlampui.
Dari sudut pandang ilmiah, maka kita semakin meyakini bahwa ilmu-ilmu fisik (fisika) dewasa ini sudah menyatu dengan dimensi gaib dan spiritualitas. Jika kita sempat membaca tulisan Frictof Capra pada bukunya Titik Balik Peradaban, terang sudah bahwasanya khazanah ilmu barat dan timur dewasa ini sudah dalam tahap penyatuan. Khazanah barat yang unggul dalam riset, eksperimentasi, dan rasionalitas; serta timur yang lebih dominan dalam aspek spiritualitas.
Oleh karena itu, era pasca-Einstein telah menjadi pembuka tabir penyatuan paradigma timur dan barat. Dan, kuantum adalah laksana jembatan antara peradaban timur dan barat. Kuantum yang secara empiris ditemukan pada abad 20, maka di dunia timur sudah mengakar cukup kuat sejak peradaban Cina Kuno dan India Kuno, 25 abad yang lalu. Dunia timur mengenal hukum paradoks lebih awal. Kita tahu, salah satu hukum dalam teori kuantum adalah hukum paradoks.
Senin, 15 November 2010
Maya, marilah kita bersikap dewasa oleh Wahyuddin Junus
Bagiku Maya adalah pribadi yang hidup di tiga ‘tempat’ yang berbeda, namun bersatu dalam kata manusia. Ia memiliki sikap tersendiri dalam mengungkap rotasi hidup. Berayun diantara mood gembira penuh ketertarikan pada hidup dan sesekali menemui jebakan depresi keputus-asaan yang kerap menyapa. Tubuhnya bak atlet, mukanya membaja. Tetapi tertutupi oleh kualitas senyumannya. Ia cukup mobile. Cepat akrab dengan orang lain. Tidak suka suasana formal, mudah menolong dan kelihatannya sedikit di atas feminin.
Hidup di dunia bagai menggendong materi dan pesan yang berat. Sebagian dari kita akan mencoba safety, mencari posisi aman. Tetapi Maya dengan aktivitas ekstrakurikulernya coba bermain dengan tantangan. Dengan menenggelamkan diri di UKM dan berada dalam hubungan empati kemanusiaan. Paling tidak menyedot perhatian ekstra untuk sebuah pilihan emosi.
Diluar kerumitan hidup, pertanyaan-pertanyaan sederhana kerap menggema. Dapatkah ia menjadi solusi ditengah penantian panjang yang membosankan menjelang kematian? Pada akhirnya secara intelektual Maya harus menjawab pertanyaan hidupnya. Sesuatu yang diperjuangkan dan dibela haruslah menjadi latihan fisik secara intensif.
Hidup memang tak pernah mudah dipahami. Dan memang ia tak dapat dipahami. Apakah hidup merupakan jawaban? Mungkin jawaban tapi pertanyaan? Barangkali juga pertanyaan sekaligus jawaban. Sepertinya Maya bermain-main untuk sebuah multiple choise hidup. Pengetahuan ‘Maya’ boleh jadi menjadi motivasi hidup yang tak pernah mati. Maya, bias berarti imajinasi, khayalan, atau bayangan. Potret penggambaran transisi dan antara.
Memahami hidup tak luput dari cerita The Hours. Film ini bagi sebagian penonton tak lebih dari pertunjukan artistik yang membingungkan, pretensius dan cuma berada dipermukaan. Kedalaman hidup mengharuskan manusia menyelami lautan ilmu. Karena kehidupan merupakan surat yang cukup hanya dibaca, tapi meresapi maknanya. Pemaknaan itu membuka pintu-pintu hati.
Di sana terjadi proses interaksi manusia dengan alam. Mampu menangkap bahasa Tuhan dalam gerak alam semesta. Persoalannya, apakah kita hanya mampu menjadi penonton untuk film kita. Bukankah manusia harus mati, agar bisa lebih menghargai hidup. Namun cerita hidup menjadi indah bila di sana ada praktek. Ada pengamalan. Mengaplikasikan ilmu dalam hidup.
Bagiku, Maya telah menjadi sosok cerapan inderawi manusia. Pun pepatah Latin, Non Scholae Sed Vitae Discimus, kita belajar untuk hidup, bukan untuk sekolah. Karena mendengar manusia lupa. Karena melihat jadi ingat. Dan melakukan akan mengerti. Bagaimana pun pesan ini tak akan bernilai tanpa kearifan dan kedewasaan. Hanya satu pintaku pada Maya, marilah kita bersikap dewasa.
Sebuah refleksi ‘Ilmu Dalam Persfektif’
Hidup di dunia bagai menggendong materi dan pesan yang berat. Sebagian dari kita akan mencoba safety, mencari posisi aman. Tetapi Maya dengan aktivitas ekstrakurikulernya coba bermain dengan tantangan. Dengan menenggelamkan diri di UKM dan berada dalam hubungan empati kemanusiaan. Paling tidak menyedot perhatian ekstra untuk sebuah pilihan emosi.
Diluar kerumitan hidup, pertanyaan-pertanyaan sederhana kerap menggema. Dapatkah ia menjadi solusi ditengah penantian panjang yang membosankan menjelang kematian? Pada akhirnya secara intelektual Maya harus menjawab pertanyaan hidupnya. Sesuatu yang diperjuangkan dan dibela haruslah menjadi latihan fisik secara intensif.
Hidup memang tak pernah mudah dipahami. Dan memang ia tak dapat dipahami. Apakah hidup merupakan jawaban? Mungkin jawaban tapi pertanyaan? Barangkali juga pertanyaan sekaligus jawaban. Sepertinya Maya bermain-main untuk sebuah multiple choise hidup. Pengetahuan ‘Maya’ boleh jadi menjadi motivasi hidup yang tak pernah mati. Maya, bias berarti imajinasi, khayalan, atau bayangan. Potret penggambaran transisi dan antara.
Memahami hidup tak luput dari cerita The Hours. Film ini bagi sebagian penonton tak lebih dari pertunjukan artistik yang membingungkan, pretensius dan cuma berada dipermukaan. Kedalaman hidup mengharuskan manusia menyelami lautan ilmu. Karena kehidupan merupakan surat yang cukup hanya dibaca, tapi meresapi maknanya. Pemaknaan itu membuka pintu-pintu hati.
Di sana terjadi proses interaksi manusia dengan alam. Mampu menangkap bahasa Tuhan dalam gerak alam semesta. Persoalannya, apakah kita hanya mampu menjadi penonton untuk film kita. Bukankah manusia harus mati, agar bisa lebih menghargai hidup. Namun cerita hidup menjadi indah bila di sana ada praktek. Ada pengamalan. Mengaplikasikan ilmu dalam hidup.
Bagiku, Maya telah menjadi sosok cerapan inderawi manusia. Pun pepatah Latin, Non Scholae Sed Vitae Discimus, kita belajar untuk hidup, bukan untuk sekolah. Karena mendengar manusia lupa. Karena melihat jadi ingat. Dan melakukan akan mengerti. Bagaimana pun pesan ini tak akan bernilai tanpa kearifan dan kedewasaan. Hanya satu pintaku pada Maya, marilah kita bersikap dewasa.
Sebuah refleksi ‘Ilmu Dalam Persfektif’
Jumat, 12 November 2010
Mimpi Seratus Hari oleh Azmar Djanib
Sesiapa telah tertawan
lantas ramai menitip mimpi
tentang seratus hari
Pasang harap pada kawan
akan tenteram jadi realiti
tentang seratus hari
Lantang suara di bahu jalan
menagih janji, sedikit emosi
tentang seratus hari
Lepas maaf berlepas tangan
lidah bersilat pasang alibi
tentang seratus hari
Lantas, dimana engkau simpan
berkas bukti bekas janji
tentang seratus hari
Lalu, sepilah panggung zaman
menunggu turunnya hujan puisi
mengubur mimpi seratus hari
lantas ramai menitip mimpi
tentang seratus hari
Pasang harap pada kawan
akan tenteram jadi realiti
tentang seratus hari
Lantang suara di bahu jalan
menagih janji, sedikit emosi
tentang seratus hari
Lepas maaf berlepas tangan
lidah bersilat pasang alibi
tentang seratus hari
Lantas, dimana engkau simpan
berkas bukti bekas janji
tentang seratus hari
Lalu, sepilah panggung zaman
menunggu turunnya hujan puisi
mengubur mimpi seratus hari
Rabu, 10 November 2010
Berburu Shaff Terdepan oleh Wahyuddin JUnus
Seorang lelaki paruh baya sedang duduk dibaris (baca: shaff) terdepan salah satu masjid di kota suci Makkah. Menjelang shalat Ashar, tiba-tiba dia mundur ke belakang di saat seseorang datang menghampiri tempat duduknya. Hanya dengan satu sentuhan tangan, tempatnya sudah digantikan oleh orang tadi. Dia telah duduk di tempat itu sejak selesai shalat Dhuhur. Diam-diam ada orang yang memperhatikannya dan coba menghampirinya. “Mengapa Anda mundur dan memberikan tempat pada orang tadi?” tanyanya setengah berbisik sambil menunjuk orang yang telah menempati tempatnya. “Karena dia yang punya tempat tersebut” ujar lelaki tersebut. Karena penasaran ditanyakan pada lelaki itu, “Sebenarnya siapa orang itu? Ungkapnya. “Dia adalah bos saya” balas lelaki itu dengan enteng. “Dia telah menggaji sebesar 3 (tiga) Riyal untuk duduk dishaff paling depan masjid ini sampai dia datang untuk melaksanakan shalat berjamaah” ungkapnya.
Konon di tanah Arab saking sibuknya orang berduit serta bergelimang harta sampai harus mengeluarkan isi kantongnya dengan memakai jasa ‘penjaga shaff’, hanya untuk bisa shalat berjamaah dimasjid pada saf paling depan. Begitu pentingnya shalat berjamaah bagi hampir sebagian orang Arab, apatah lagi dilakukan dishaff paling depan. Kesibukan para kaum berduit dinegara itu mengharuskannya menggunakan bantuan orang lain hanya untuk mendapatkan di masjid tempat di shaff paling depan.
Naluri spiritual dan etos sosial dengan memakai jasa orang tak berpunya tampak dikedepankan. Bagi mereka menempati shaff terdepan begitu bernilai. Memperebutkan tempat dishaff paling depan begitu lumrah di sana. , Lantas, ditempat kita gimana? Atau disekitar masjid tempat tinggal kita? Di saat musin Pemilu, apakah itu pilkada, pemilihan caleg, atau pun pilkades, kerap orang berlomba-lomba untuk maju. Tampil digarda terdepan hanya untuk meraup suara yang banyak. Berapa banyak biaya yang harus mereka keluarkan hanya untuk menjadi seorang pemenang? Mungkin mengejar posisi shaff terdepan belum menjadi keharusan. Perlombaan diranah politik praktis masih menjadi candu yang mengasyikan untuk diraih. Dan itu tak jauh. Di sini.(Renungan Hari ini, Jum'at 29 Oktober 2010)
Konon di tanah Arab saking sibuknya orang berduit serta bergelimang harta sampai harus mengeluarkan isi kantongnya dengan memakai jasa ‘penjaga shaff’, hanya untuk bisa shalat berjamaah dimasjid pada saf paling depan. Begitu pentingnya shalat berjamaah bagi hampir sebagian orang Arab, apatah lagi dilakukan dishaff paling depan. Kesibukan para kaum berduit dinegara itu mengharuskannya menggunakan bantuan orang lain hanya untuk mendapatkan di masjid tempat di shaff paling depan.
Naluri spiritual dan etos sosial dengan memakai jasa orang tak berpunya tampak dikedepankan. Bagi mereka menempati shaff terdepan begitu bernilai. Memperebutkan tempat dishaff paling depan begitu lumrah di sana. , Lantas, ditempat kita gimana? Atau disekitar masjid tempat tinggal kita? Di saat musin Pemilu, apakah itu pilkada, pemilihan caleg, atau pun pilkades, kerap orang berlomba-lomba untuk maju. Tampil digarda terdepan hanya untuk meraup suara yang banyak. Berapa banyak biaya yang harus mereka keluarkan hanya untuk menjadi seorang pemenang? Mungkin mengejar posisi shaff terdepan belum menjadi keharusan. Perlombaan diranah politik praktis masih menjadi candu yang mengasyikan untuk diraih. Dan itu tak jauh. Di sini.(Renungan Hari ini, Jum'at 29 Oktober 2010)
Tangisan Wanita oleh Wahyuddin JUnus
Seorang anak laki-laki kecil bertanya kepada ibunya “Mengapa engkau menangis?” “Karena aku seorang wanita”, kata sang ibu kepadanya. “Aku tidak mengerti”, kata anak itu. Ibunya hanya memeluknya dan berkata, “Dan kau tak akan pernah mengerti” Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya, “Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan?” “Semua wanita menangis tanpa alasan”, hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya. Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanita menangis. Akhirnya ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya, “Tuhan, mengapa wanita begitu mudah menangis?” Tuhan berkata: “Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan ” “Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya ” “Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh ” “Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan. Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan.” Termasuk menangisi kepergian Anggoro.
Langganan:
Postingan (Atom)