#navbarsecond { border-bottom: 1px solid gainsboro; height: 30px; padding-left: 50px; } #navbarsecond ul li { float: left; list-style-type: none; padding-right: 40px; font-size: 14px; }

Rabu, 16 Februari 2011

Oase Menjemur Matahari

Sinar matahari terhampar dari pagi hingga sore hari. Kepungan teriknya menyebar dan menyinari setiap benda yang ditemuinya. Tingkah lakunya yang memiliki kecerdasan dan kesetiaan mampu mendobrak dinding kaca/transparan, menembus segala ruang dan waktu milik bumi, merasuki perasaan manusia, dan hinggap disetiap warna, sekedar menagih kehidupan separuh waktu.
Bagi manusia, datangnya matahari menggiring manusia untuk merasakan limit kesadaran, dan merengkuh segala roda aktifitas manusia. Bisa saja, matahari hanyalah ‘alamat waktu’ bagi bumi. Namun matahari hadir kepada manusia kapan saja dan di mana saja, sebagai makna hidup ia siap engkau peralat. Sebagai metoda penyehatan di pagi hari, pengeringan bingkisan luar tubuh manusia, dan kalaupun engkau memetiknya dari angin yang menyadarkanmu pada suatu siang yang panas untuk engkau pergauli, matahari tak akan bertanya : “Mengapa engkau takut denganku ?”
Tidak, bahkan matahari bersedia menghadirkan dirinya tak cuma untuk manusia. Bukankah kelopak bunga-bunga mengerti kapan harus mengembang dan kapan harus menguncup? Bukankah angin tidak merekayasa embusannya sesuai dengan kepentingan-kepentingan? Bukankah matahari terbit tepat waktu pada momentum kewajarannya untuk terbit.
Kewajaran matahari adalah menerangi dengan adanya dan menggelapkan dengan tiadanya. Kewajaran angin adalah menafasi dan melemparkan. Kewajaran air adalah meminumi dan menenggelamkan. Kewajaran manusia adalah kesetiaan berjuang me-manage dan mengadilkan takaran cahaya matahari agar menyehatkan, takaran kendali angin agar menyamankan, serta takaran nyala api agar mematangkan. Bagaimana pun tragedi kemanusiaan akhir-akhir ini ibarat bola salju ditengah terik matahari. Setiap sinarnya berhak untuk menemui apa saja yang ditemuinya. Tugas manusia untuk mewujudkan makna cahaya di atas cahaya.

Selasa, 15 Februari 2011

Konsepsi Pembangunan Berkelanjutan

Indikator keberhasilan pembangunan bukan semata-mata ditentukan pada pertumbuhan ekonomi melainkan peningkatan kualitas lingkungan hidup. Percepatan pertumbuhan ekonomi dengan membiarkan lingkungan menjadi rusak merupakan pertumbuhan ekonomi yang semu (illusory). Sering terjadi pembangunan yang berhasil tidak memiliki daya kelestarian yang memadai, akibatnya pembangunan tidak bisa berkelanjutan (Budiman. A, 2000:7).
Kerusakan lingkungan akan menimbulkan biaya tersembunyi (hidden cost) berupa biaya eksternalitas dan biaya sosial yang harus ditanggung oleh generasi mendatang. Tidak memperhitungkan biaya eksternalitas dalam pembangunan, berarti menjauhkan tercapainya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.
Pertumbuhan ekonomi akan menjadi semu jika kelestarian sumberdaya alam lingkungan terganggu. Pembangunan tidak saja meningkatkan kesejahteraan generasi masa kini, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan pembangunan bagi generasi mendatang secara keberlanjutan.

Upaya untuk menjembati kesenjangan yang semakin lebar antara kepentingan ekonomi berjangka pendek yang bersifat semu dengan manfaat pembangunan berkelanjutan yang dapat dirasakan generasi yang akan datang, diperlukan konsep pembangunan berkelanjutan atau berwawasan lingkungan.
Kota pada prinsipnya merupakan produk dari proses pembangunan. Kota dengan konsep pembangunan berkelanjutan adalah suatu daerah perkotaan yang mampu berkompetisi secara sukses dalam pertarungan ekonomi global dan mampu mempertahankan vitalitas budaya dalam keserasian lingkungan. Keberlanjutan pada hakekatnya merupakan suatu etik, suatu perangkat prinsip-prinsip dan pandangan ke masa depan.
Kota dengan aneka ragam daya tariknya tampil bagaikan lampu menyedot kehadiran laron. Beberapa diantara laron-laron itu hangus terbakar, tetapi tidak pernah mengurangi derasnya arus laron yang lain.