#navbarsecond { border-bottom: 1px solid gainsboro; height: 30px; padding-left: 50px; } #navbarsecond ul li { float: left; list-style-type: none; padding-right: 40px; font-size: 14px; }

Kamis, 13 Maret 2014

MH370 dan Hukum Paradoks




Ilustrasi
Majas Antitesis dan Majas Paradoks Beserta Contoh-contohnya

Dalam pemungutan pandangan Gallup dalam tahun 1984 menemukan bahwa 55 persen remaja meyakini bahwa antropologi berhasil. Dalam abad perantara kita berbicara dengan nenek moyang, yang telah lama tiada, penculikan oleh piring terbang dua minggu sekali, dan sejumlah dukun yang memancarkan semua jenis nonsen Abad Baru. Pendeknya, dunia masa kini adalah dunia teknologi tinggi dan sekaligus kemunduran ke jenis yang paling primitif dari takhyul kebodohan.

Tak dipungkiri sains memberikan banyak kemudahan dan sekaligus memanjakan manusia. Dengan terus berakumulasi dan mengadakan infiltrasi, sains di era modern ini telah mengalami keterputusan dari sumber kesuciaannya. Seperti yang disinyalir oleh Prof. Dr. Bayraktar Bayrakli.

Tragedi hilangnya MH370 pesawat Malaysia Airlines, menempatkan dukun dalam posisi teranyar. Upaya membuka tabir yang menyelimuti kemajuan teknologi dirgantara. Ruang misteri ini telah dirumuskan dalam konsep kuantum. Apa sesungguhnya yang sedang terjadi? Di manakah kuantum itu terjadi?  

Dibanding dunia barat, dunia timur sesungguhnya mengenal hukum paradoks lebih awal. Salah satu hukum dalam teori kuantum adalah hukum paradoks. Namun tak dipungkiri khazanah barat yang unggul dalam riset dan eksperimentasi. Relasi ini pantas disematkan, bicara pesawat bukan sekadar teknologi, produksi lalu jual. Rasanya butuh pembuktian yang paradoks juga, diluar wacana terorisme atau pun isu pembajakan.

Senin, 10 Maret 2014

Belajar Jujur Dari Aroma Kopi



Di Setiap tempat, perbincangan politik selalu membadai. Selaksa menikmati kopi, pahit namun enak. Buat saya ditambah susu, makin sip. Apalagi jika politisi ikut di dalamnya. Sebuah pijakan rasional patut dikemukakan di sini bahwa politisi (baca: caleg) selalu merasuki suasana ajang keramaian atau sekadar kongkow. Tak ingin melewatkan momen berharga demi sosialisasi. Seperti matahari dengan sigap menyapa pagi.

Tradisi minum kopi bersama pernah terekam dalam aktivitas Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Untuk dekat dengan rakyat Soekarno pun ikut ngopi sambil mendengar keluhan rakyatnya. Karena suasana egaliter yang tercipta membuat komunikasi bisa terpenuhi dari kedua pihak. Tanpa sekat yang membatasi. Ini pula yang membuat pejabat publik dan politisi kerap menyambangi tempat-tempat santai untuk sekadar ngopi.

Jelang pemilihan caleg (pileg) seperti saat ini, maka dengan mudah menemukan politisi di antara pengunjung di warung-warung kopi. Di Makassar, tempatnya dikenal sebagai Warkop. Dari sekian banyak warkop yg ada telah menstimulir strata sosial menyatu dan mengesamping batas yang ada. Maka ditemukan bermunculan warkop berbasis ormas/parpol di Makassar. Menjamurnya warkop-warkop yang ada disinyalir mulai bermunculan saat penghelatan pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan tahun lalu.

Keberadaan warkop-warkop punya daya tari tersendiri. Kehadirannya dipenuhi lewat komunitas-komunitas penggila bola dengan ngopi sambil nonton bareng.  Warkop telah punya menjadi tempat mencari berita bagi para jurnalis media, baik media lokal maupun nasional.. Celah ini menjadikan wahana bagi pejabat publik dan politisi unjuk diri. Maka dengan mudah ditemukan warkop menjadi tempat kegiatan forum-forum diskusi publik. Termasuk konferensi pers, karena jurnalis juga menjadi pelanggan setia warkop.

Ketersediaan warkop sebagai wahana pendidikan politik, tetap saja mengambil jarak. Politisi dengan jargon berikut visi misinya dan masyakat dengan pikirannya. Namun seduhan kopi telah membuat mereka bersepakat, aroma kopi itu jujur. Tidak dibuat-buat apalagi direkayasa. Menikmati segelas kopi sambil merasakan ekspresi senyum para caleg. Meski kadang fragmen politiknya sulit diraba. Paling tidak senyum para caleg lewat baliho akan diuji dan akan terlihat siapa yang benar-benar tersenyum.

Teksture politik yang memanfaatkan gesture keluguan tidak terlalu nampak. Namun bahasa peng-iba kerap menjadi ucapan pemanis, semacam : bantuka dulue, bantuka kodong, kita mami yang bisa bantuka. Meski tidak semua menghinggapi caleg, paling tidak saat ini, pertemanan menjadi begitu istimewa.  Minum kopi  pun jadi terasa istimewa.

Terakhir saya ingin mengutip Burhanuddin Muhtadi via twitter-nya. Dia pernah menuliskan: ‘negarawan memperlakukan kekuasaan sebatas air tawar, cukup utk melepas dahaga’. Maka politisi memperlakukan kekuasaan laksana minum kopi susu. Merasakan pahit dan manisnya bersama-sama. Itulah kenikmatan minum kopi bersama politisi. Untuk tidak menciptakan kegaduhan politik tanpa makna, maka bolehlah saya menuliskannya sambil ditemani secangkir kopi susu. Aroma kopi itu jujur diminum politisi sekalipun.
Salam hangat

Wahyuddin Junus

Minggu, 09 Maret 2014

Menulislah Agar Tidak Kencing Batu !

Jangan salahkan matahari jika ia mendatangimu, sambutlah !

Dalam kehidupan, rotasi waktu menjadi keniscayaan. Perjalanan waktu akan digapai dalam dua skema besar: kita menjalani waktu yang ada dan sekaligus mendatangi waktu yang akan kita tuju. Di dalam waktu yang terjalani, kita disesaki arus informasi yang selalu menyiratkan pesimisme sekaligus kesan optimisme. Perputaran informasi sudah masuk dalam anggapan bahwa dunia ini sebagai satu desa global.

Saya tak perlu membaca headline media hari ini, hanya untuk menjadikan dia aktual. Saya tak perlu bemain-main dengan kata-kata karena ini bukan sastra, bukan pula puisi. Kemurahan menjadi barang mahal karena disembunyikan. Namun, kemahalan menjadi murah karena dipertontonkan. Mengatakan tidak mahal sebagai murah itu keterusterangan ekstrem. Murah tapi tak murahan.

Dalam derajat tertentu, saya tak perlu meminjam referensi dan bacaan pemerkaya untuk menulis. Karena itu hanya membuat jadi kaku. Terkesan memaksa untuk ilmiah. Ujung-ujungnya nanti menemui kekalutan yang bermuara pada ‘kekhilafan ilmiah’. Menuliskan gagasan, melibatkan rasa dalam rangkaian kata, atau pun bergumul dalam kebimbangan atas ketidaksiapan kita untuk berubah. Sementara di sisi media, boleh jadi kita terjebak untuk menerima informasi sebagai sesuatu yang terberi. Pendirian yang tangguh akan berhadapan dengan sosok dan karakter media sebagai makhluk tersendiri.

Betapapun terdapat kekhawatiran dan rasa was-was, tetapi kehidupan selalu saja harus ditempuh dg berjalannya waktu. Bahagia datang disetiap waktu meski tak hadir bersamaan. Siang dan malam tak perlu dibedakan, cukup kita rasakan. Menuliskan ini lebih bermotif tekanan karena tak ingin menahan terlalu lama karena ingin buang air kecil. Maka menulislah agar tidak kencing batu.

Anti Mainstream Kok Begitu, Sih!

Dijamannya, Gus Dur berani tampil beda. Menyapa dan bersuara lebih sering di posisi lawan arah. Cak Nun piawai dalam mengulas fenomena, sehingga tulisannya selalu ternantikan di minggu-minggu yang ada. Idenya genit, melambung sampai ke awang-uwung, menyentuh dinding hati dan pasti bersimbah keteduhan bagi yang tersapanya. Amien Rais menghentak tatanan, seolah membuat keruh padahal sejatinya diapun ihlas pulang tanpa membawa bingkisan apapun. Sementara hasil hentakannya tanpa tersadari menjadi pundi-pundi keberhasilan di lain pihak. Rendra apalagi, sebait yang diucapnya menjadi ulasan hidup yang ada. Mengepak-kepak sayap tetap harum dan wibawa.

Ingin rasanya menyebut satu persatu dari beliau yang telah mampu memainkan gaya berpikir anti kemapanan, anti mainstream, yang kokoh melawan arus. Semoga tiga contoh sosok di atas cukup sudah menjadi peniup ingatan jika beliau berkibar karena berada dalam koridor kesetaraan hati. Maksudnya, jelas dalam melangkah, tepat bidikannya, bersuara tetapi jernih yang disuarakan. Jernih, karena jelas sasarannya, jelas targetnya, selalu tersambut dengan manisnya setiap hentakan langkahnya. Benar-benar telah mampu mempermainkan arti anti mainstream sesungguhnya.

Anti mainstream sah adanya dan banyak terbukti berangkat dari “sintalnya” berfikir itu menjadi inspirasi gerak perjuangan bangsa bahkan peradaban hidup. Anti mainstream adalah keniscayaan budaya pikir, terengkuh dalam koridor kesefahaman aturan. Anti mainstream menyengat, membakar, tetapi meneduhkan.

Karena anti mainstream tidak melupakan harga diri diluar dirinya. Karena anti mainstream mempersilahkan roda hidup berjalan, tidak untuk merubah apalagi membalikkan arah. Anti mainstream tidak mengenal penghantaman figur dan sosok, karena sasaran yang paling disukainya adalah kebobrokan birokrasi dan pongahnya penguasa! 

Apa jadinya jika anti mainstream sudah terpola dan mengerucut. Ditunggangi dan sering berkelit-kelit. Memanggil-manggil kebebasan tetapi menghimpit. Menghebatkan satu sisi dengan menyempurnakan kebencian ke sisi lain. Bergerak tanpa lagi melihat norma dan aturan yang ada.

Sayang sekali, potensi anti mainstream yang begitu hebatnya hanya diskalakan untuk diri dan kelompok yang ada, tidak untuk dilemparkan agar diberi ruang dan kesempatan menyulam bentuk lain agar semakin membaik bagi semua. Sayangnya, pola pikir yang semestinya bertengger dalam singgasana emas keteduhan hati, harus selalu membuat bara di huma lain. Sayangnya, ini semakin menggejala dan berputar-putar tanpa arah. Padahal hidup adalah pasti, tertata di dunia, selamat di hidup selanjutnya.

Tulisan ini hanyalah sapa dari yang merindukan sosok-sosok yang kemarin telah tuntas dalam memerankan tokoh yang kontroversial. Kontroversial dalam segala dimensi dan telah tercatat oleh masa sebagai pelukis khazanah hidup di jamannya. 

Anti mainstream, gaya manis berpikir yang bisa merajut cinta sesama untuk perbaikan hidup bersama. Tidak ada yang tersakiti, tidak perlu menyakiti dan tidak mengharap puja-puji, apalagi pengkultusan harga diri. Karena anti mainstream hanya dimiliki oleh mereka-mereka yang sudah teruji akan ragam wacana. Maka, jika anti masinstream hanyalah bungkus saja, maka seukuran itulah wacana dalam pikirnya. Hanya yang dibungkus dan yang dibungkus!

Sumber:
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2014/02/12/anti-mainstream-kok-begitu-sih-631341.html 

Akhmad Fauzi Praktisi pendidikan yang sedang memulai belajar untuk menjadi pemerhati sosial dan pendidikan lewat tulisan-tulisan (artikel, puisi, drama). Lahir 41 tahun silam di 25 km sebelah selatan dari pusat kota kabupaten (Jember). Dikarunia tiga orang putri, bersama istri tercinta sekarang (berlima) hidup merajut sisa hidup yang Tuhan berikan untuk MENGUPAYAKAN MENGENALKAN DIRI JIKA MEMILIKI HATI. BERSAMANYA GERAK LANGKAH HIDUP BAK ORKESTRA DENGAN NADA DASAR ABADI "ENERGI POSITIF". Itulah visi yang ada, semua hanya untuk ibadah!

Jumat, 07 Maret 2014

Saya Menulis Untuk Tidak Menulis


Dengan menulis saya menjadi hidup. Dengan menulis pula saya akan mati. Mungkin, sebuah cara indah untuk hidup dan mati. Inspirasi itulah yang membuat tulisan ini hadir. Eksplorasi akan kedirian insan, mengharuskan tulisan ini ada. Mungkin terkesan sentimentil, tapi setidak-tidaknya perubahan dimaknai sebagai sesuatu yang bergerak dinamis. Pendeknya, ‘dimulai dari menulis.’

Masing-masing manusia mempunyai kepribadian tertentu. Paling tidak, yang cocok untuk melayani pikiran-pikirannya. Menulis dianggap paling sering mengikuti suasana hati penulisnya. Kondisi ini membuat alur berpikir dan perasaan berkelabat, menyatu dalam sebuah tulisan. Namun, tak dipungkiri, ada yang melihat tulisan bermusuhan dengan penulisnya, tapi paling tidak, kita melihat pekerjaan menulis adalah usaha membuat penulisnya bertanggung jawab pada tulisannya.


Konsekuensi berdimensi ganda pada manusia memberi artikulasi, bahwa tulisan itu hendaknya tidak bersekongkol dengan penulisnya. Tidak berarti pula bahwa penulis berperang melawannya. Dilema suasana, ‘penulis harus membuatnya bertanggung jawab’. Maksimal bertanggung jawab kepada pembacanya. Minimal bertanggung jawab kepada pikirannya.

Hal lain peran sebagai penulis itu adalah membuat orang sadar akan diri mereka, lingkungannya dan perubahan yang sedang dan akan terjadi. “Jika kita tak takut tangan kotor, kita dapat belajar banyak dengan bekerja,” ungkap Tallman, salah seorang pemilih penerbitan Press-Republican. Kadang-kadang penulis mendapati dirinya berhadapan dengan prinsip-prinsip yang ada dalam masyarakat, padahal penulisnya jarang atau sama sekali tidak melibatkan perasaan mereka.

Satu pertanyaan mendasar, yang mungkin muncul : seandainya manusia tidak menuangkan pikiran dan perasaannya, dan pada saat itu ia harus memutuskan untuk ‘marah’? Tapi, jika ia memang sudah marah dan tidak tahu kepada siapa lagi harus mengadu ? Mungkin dengan merasa nyaman untuk hidup, semua masalah aku lemparkan ke dalam tulisan, dan berbuah ‘Saya Menulis Untuk Tidak Menulis’.

Salama’ki