Jangan salahkan matahari jika ia mendatangimu, sambutlah !
Dalam kehidupan, rotasi waktu menjadi keniscayaan. Perjalanan waktu akan
digapai dalam dua skema besar: kita menjalani waktu yang ada dan sekaligus
mendatangi waktu yang akan kita tuju. Di dalam waktu yang terjalani, kita
disesaki arus informasi yang selalu menyiratkan pesimisme sekaligus kesan
optimisme. Perputaran informasi sudah masuk dalam anggapan bahwa dunia ini
sebagai satu desa global.
Saya tak perlu membaca headline media hari ini, hanya untuk
menjadikan dia aktual. Saya tak perlu bemain-main dengan kata-kata karena ini
bukan sastra, bukan pula puisi. Kemurahan menjadi barang mahal karena
disembunyikan. Namun, kemahalan menjadi murah karena dipertontonkan. Mengatakan
tidak mahal sebagai murah itu keterusterangan ekstrem. Murah tapi tak murahan.
Dalam derajat tertentu, saya tak perlu meminjam referensi dan bacaan
pemerkaya untuk menulis. Karena itu hanya membuat jadi kaku. Terkesan memaksa
untuk ilmiah. Ujung-ujungnya nanti menemui kekalutan yang bermuara pada
‘kekhilafan ilmiah’. Menuliskan gagasan, melibatkan rasa dalam rangkaian kata,
atau pun bergumul dalam kebimbangan atas ketidaksiapan kita untuk berubah.
Sementara di sisi media, boleh jadi kita terjebak untuk menerima informasi
sebagai sesuatu yang terberi. Pendirian yang tangguh akan berhadapan dengan
sosok dan karakter media sebagai makhluk tersendiri.
Betapapun terdapat kekhawatiran dan rasa was-was, tetapi kehidupan selalu
saja harus ditempuh dg berjalannya waktu. Bahagia datang disetiap waktu meski
tak hadir bersamaan. Siang dan malam tak perlu dibedakan, cukup kita rasakan.
Menuliskan ini lebih bermotif tekanan karena tak ingin menahan terlalu lama
karena ingin buang air kecil. Maka menulislah agar tidak kencing batu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar