Jika
begitu caranya, KPK akan potensial jadi alat politik. Farid Gaban tulis
dalam salah satu statusnya di facebook (23/10/2014) menyoroti ikut
berkiprahnya KPK dalam menilai susunan kabinet Jokowi-JK. Keputusan
Presiden Joko Widodo untuk menggandeng KPK membuat molornya pengumuman
menteri, pasca dilantiknya 20 Okrober 2014 beberapa hari lalu.
Selengkapnya di sini.....
penahijau.com
Untuk Kontribusi Peradaban
Kamis, 23 Oktober 2014
Jumat, 26 September 2014
blur.....
Betapa tidak mudahnya soal pekerjaan rumah (PR) dibuat dalam notasi matematik. Ekspresi sebagai penanda sama dengan (=) atau ekivalen, telah menimbulkan kehebohan jagad maya (fb). Habibie, siswa kelas II SD di Semarang, hanya diberi nilai 20 oleh gurunya meski sudah dibantu oleh kakaknya, Erfas Maulana. Erfas menjadi perbincangan karena mengunggah PR matematika milik adiknya. Kasus PR dengan hasil sama dengan konsep berbeda, namun sang guru tetap memberi penilaian salah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ikut dibuat kaget, sampai Humas Kemendikbud, Ibnu Hamad, harus angkat bicara.
Matematika adalah mata pelajaran yang terstruktur, sistematis, logis. Tanpa perlu masif dan tentunya "pasti" walau terkadang kalau mempelajari lebih dalam sepertinya terdapat juga ketidakpastian. Maka mempelajari matematika hendaknya terstruktur, mulai dari yang dasar. Waktu SD Kita belajar penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Kenapa yang pertama diajarkan mengenai penjumlahan dan pengurangan, selanjutnya mengenai perkalian dan pembagian. Itulah maksud dari mempelajari matematika harus terstruktur dan sistematis. Dengan mempelajari penjumlahan dan pengurangan terlebih dahulu, kita akan mendapatkan pemahaman mengenai perkalian dan pembagian.
Sekolah-sekolah berlomba melatih siswa dalam kemampuan berhitung. Tahapan di kembangkan ke penerapan, analisis dan juga sintesis, tetapi jarang diterapkan. Manusia dalam melakukan pekerjaannya selalu mendampakan penemuan pengetahuan yang benar. “Namun karena kedhaifan manusia, walau ia sudah memiliki ketinggian akal dan budinya, segala sesuatu hasil pengamatan dan perenungan manusia itu selalu saja adalah “kebenaran” oleh alat ukur yang dipikirkan dan diciptakan manusia itu sendiri” ungkap Andi Hakim Nasution. Dunia pendidikan sebagai sistem yang terkelola profesional dan pertanggung-jawaban secara karakter yang detail hingga koin terkecil, terlupakan perannya di kurikulum 2013.
Harus diakui sampai sekarang ini selalu muncul pertanyaan apakah SD perlu di ajarkan matematika atau cukup berhitung seperti zaman dulu. Mematok pelajaran matematika terbatas pada berhitung mengikuti pola lama, hanya membuat siswa dilatih untuk tidak mengenali dan menguasai kemampuan bernalar. Namun gaya lama mengambil massa mengambang cukup menguntungkan dalam suatu perayaan PEMILU. Pola lama ini abai untuk melek angka. Lembaga survey telah memilih waktu yang paling senyap untuk mengformulasikan angka-angka. Lidah para pengamat meninggalkan basah berceceran untuk membaca angka-angka itu. Mungkin kehebohan seperti ini, akan selalu ada, bahkan menjadi perdebatan dengan setting drama kepentingan di suatu tempat di Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU). Kalau perlu berlanjut di Gedung MK.
Sekolah adalah ruang belajar yang beriringan huruf dan angka. Habibie dan Erfas sekedar contoh, dua orang adik-kakak yang kesulitan mengurai kealfaan kurikulum, Semua kehebohannya juga menjadi catatan kelam kehidupan perpolitikan bangsa ini. Jangankan menguasai kemampuan bernalar, kita belum mampu menghitung jumlah suara secara benar dalam setiap pemilu. Gambaran blur dunia pendidikan patut ditengarai mewarnai struktur kehidupan dalam bayang-bayang kegelapan. Meski tak dipungkiri gelap itu juga tidak ada. Gelap hanyalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Namun cahaya bisa kita pelajari, tetapi gelap tidak. Manusialah mendeskripsikan gelap, karena ketiadaan cahaya. Tuhan pun tidak mencipta kegelapan. Karena kegelapan adalah manifestasi tidak hadirnya Tuhan di hati manusia.
Wahyuddin
Junus, Pemerhati Lingkungan/Penggiat Diskusi Masika ICMI Sulsel
tulisan ini dapat juga dilihat di makassar trend ..blur....
Melihat Bugis Dengan Dirinya Sendiri
Literatur sejarah lebih banyak diwarnai dengan pemikiran
dari luar. Salah satu referensi dan jadi
acuan lebih banyak berasal dari Belanda, terutama tema politik abad ke-19.
Buku "Para Penguasa Ajatappareng :
Refleksi Sejarah Sosial Politik Orang Bugis" hadir untuk mengurai
kesunyian literatur sejarah yang ditulis oleh orang bugis.
"Yang tahu tentang bugis adalah bugis itu
sendiri," ujar Dr. Abd. Latif (24/9/2014), di saat peluncuran bukunya di
Aula Prof. Mattulada Kampus Unhas Tamalanrea. Klaim penulis, yang unik dari
buku ini adalah 90% menggunakan lontara.
Istilah "Lontara" diasosiasikan pada literatur
mengenai sejarah dan geneologi masyarakat bugis. Meski mencakup jumlah halaman yang mencapai 6000 lembar, kerap dibumbui dengan
mitos-mitos. Maka menurut Dr. Abd.Latif, tugas sejarahwan untuk melihat apa
yang pernah berlaku di daerah.
Supratman (Supa Athana), salah seorang pembahas, mendukung buku
ini atas penggunaan lontara. Karena ini menyangkut jati diri dan karakter bangsa.
Meski buku ini lebih bernuansa politik, menurutnya, buku ini adalah produk
kebudayaan dan memberinya label sebagai karya
sosiologi sastra. Sosiologi sastra sendiri adalah jenis pendekatan pada sastra yang mempunyai paradigma
dengan implikasi epistimologis yang berbeda dengan yang sudah ada.
Pandangan berbeda atas buku ini coba di urai Prof.
Suryadi Mappangara, salah seorang Guru besar Fak. Satra yang juga menjadi
pembahas buku. Dengan berseloroh, “ susah untuk menilai objektifitas, karena
saya ada dalam bingkai itu.” Dia memberi penilaian skeptis atas penulis buku
ini, karena tabu akan literatur dari luar.
“Sejarah bukan cuma yang ditulis, tapi juga
sejarah yang dipikirkan orang,” ungkap Prof. Suryadi. Karena sejarah mengandung peristiwa dan kisah
di dalamnya, maka penggunaan lontara didalamnya harus bisa menjawab alasan
ilmiah dari berbagai versi lontara yang ada. Pemikiran ini dipahami, karena sejarah
banyak diwarnai intrik dan rekayasa dalam
penulisannya.
Dalam pandangan akademis, buku ini patut
diapresiasi sebagai karya ilmiah. Ilmu pengetahuan dan pengetahuan sejarah akan
selalu mengalami penyempurnaan dari waktu ke waktu. Pengetahuan sejarah selalu
dilihat dimana keberadaan manusia dilahirkan. Maka tentu tidak salah sudut
pandang penulis buku ini, untuk melihat bugis dengan dirinya sendiri.
Wahyuddin Junus,
Penggiat Diskusi Masika ICMI Sulsel.
tulisan ini juga dapat dijumpai di makassar trend di sini ...
tulisan ini juga dapat dijumpai di makassar trend di sini ...
Senin, 01 September 2014
Kamuflase Keindahan
![]() | |
| Ilustrasi Keindahan Seni Kamuflasi yang Kreatif (sumber: http://newoldinfo.blogspot.com) |
Lelah.
Diam-diam mulai merasuk. Saat waktu telah membuka celah penyemangat. Beberapa kali aku coba bangkit. Berusaha meyakinkan diri. Segala bentuk persiapan dan perencanaan hidup coba disusun. Aku tak lupa membawa semua angan dan harapan, coba melintas dan berkunjung ke samudera pemikiran.
Satu, dua kali kurasakan putus asa, cemas dan takut, datang bergerombol garang. Datang dengan tenang mengejek hingga mampu merajai batok kepala. Pada sang Mentari saat itu, langit menunjukkan kemuraman-nya di antara pekatnya awan membungkus durja harapan yang mengusik perasaan.
“Terkadang tak semua lancar. Tak ada guna berkeluh kesah,” pikirku membatin.
Sumbangsih, jejak mitos, idealitas, romantisme terkadang mengembangkan diri, secara mandiri, namun tak cukup dikontrol oleh realitas. Pemikiran-pemikiran awal melangkah begitu maju, meski terkadang meninggalkan kaki yang terangtuk oleh roda kenyataan hidup.
Perseteruan batin menjadi menu harian bak kisah naskah dialog. Kerap kali tercipta dan menjebak rutinitas. Beberapa kalimat datang gonta-ganti menelorkan pandangan dan cara pandang berbeda.
“Tak ada manusia yang sempurna.”
“Tapi itu tak berarti tak berharga.”
“Bukankah kita hidup dalam dunia yang penuh hipotesa tentang masa depan, di mana hanya prinsip-prinsip estetika yang memiliki konsistensi yang bisa kita pegang.”
Kita pada gilirannya akan terus berjalan mempertanyakan posisi benar dan salah, berjalan untuk menciptakan dan mempertahankan keseimbangan moral. Lantas, dari beberapa orang tak bisa menghadapi kenyataan.
Di saat tekadku surut, ada saja yang mengirimkan nada kepedulian. Meski, sewaktu-waktu ia bisa saja ditelan bumi, bersenyawa dengan apa saja yang ditemuinya. Upaya penyusupan kehendak yang terbentuk dalam otak besar dan kecil, diam-diam menerima sebagai keindahan. Lebih tepatnya kamuflase keindahan.
Kebenaran Zakat Atas Dusta Kemiskinan (catatan masa dr Workshop Zakat, Standarisasi dan Networking Mitra Pengelola Zakat)
Indonesia Zakat and Devolopment Report tahun 2009, pada
halaman 159 meneguhkan kejumudan zakat di Indonesia yg mengalami evolusi dari
waktu ke waktu. Pemberdayaan zakat nasional yang dulunya menitikberatan pada amal
sosial-keagamaan dan bantuan kemanusiaan perlahan mulai dikurangi dan kini mulai menggawangi pembangunan dan pemberdayaan
masyarakat (commmunity development and empowerment).
Titik selanjutnya yang akan dituju adalah advokasi dan penguatan kebijakan publik (advocacy and policy making) meski harus melepas sedikit demi sedikit ego sektoral masing-masing lembaga amil zakat. Capaian tertinggi dari evolusi pemberdayaan zakat nasional yang hendak dicapai yakni pemikiran dan peradaban (thought and civilization), meski harus melewati jalan yang terjal lagi berliku.
Semangat untuk menguapkan kemiskinan dan ketakberdayaan umat dan bangsa patut direspon agar tak dikategorikan sebagai orang yang mendustakan agama. Dari sini pula kedigdayaan zakat akan tercubit dalam efek sistem bernama: BBM. Wallahu a'lam bis shawab.
Titik selanjutnya yang akan dituju adalah advokasi dan penguatan kebijakan publik (advocacy and policy making) meski harus melepas sedikit demi sedikit ego sektoral masing-masing lembaga amil zakat. Capaian tertinggi dari evolusi pemberdayaan zakat nasional yang hendak dicapai yakni pemikiran dan peradaban (thought and civilization), meski harus melewati jalan yang terjal lagi berliku.
Semangat untuk menguapkan kemiskinan dan ketakberdayaan umat dan bangsa patut direspon agar tak dikategorikan sebagai orang yang mendustakan agama. Dari sini pula kedigdayaan zakat akan tercubit dalam efek sistem bernama: BBM. Wallahu a'lam bis shawab.
Kamis, 13 Maret 2014
MH370 dan Hukum Paradoks
![]() |
| Ilustrasi |
Dalam
pemungutan pandangan Gallup dalam tahun 1984 menemukan bahwa 55 persen remaja
meyakini bahwa antropologi berhasil. Dalam abad perantara kita berbicara dengan
nenek moyang, yang telah lama tiada, penculikan oleh piring terbang dua minggu
sekali, dan sejumlah dukun yang memancarkan semua jenis nonsen Abad Baru.
Pendeknya, dunia masa kini adalah dunia teknologi tinggi dan sekaligus
kemunduran ke jenis yang paling primitif dari takhyul kebodohan.
Tak
dipungkiri sains memberikan banyak kemudahan dan sekaligus memanjakan manusia.
Dengan terus berakumulasi dan mengadakan infiltrasi, sains di era modern ini
telah mengalami keterputusan dari sumber kesuciaannya. Seperti yang disinyalir
oleh Prof. Dr. Bayraktar Bayrakli.
Tragedi
hilangnya MH370 pesawat Malaysia Airlines, menempatkan dukun dalam posisi
teranyar. Upaya membuka tabir yang menyelimuti kemajuan teknologi dirgantara.
Ruang misteri ini telah dirumuskan dalam konsep kuantum. Apa sesungguhnya yang
sedang terjadi? Di manakah kuantum itu terjadi?
Dibanding
dunia barat, dunia timur sesungguhnya mengenal hukum paradoks lebih awal. Salah
satu hukum dalam teori kuantum adalah hukum paradoks. Namun tak dipungkiri
khazanah barat yang unggul dalam riset dan eksperimentasi. Relasi ini pantas
disematkan, bicara pesawat bukan sekadar teknologi, produksi lalu jual. Rasanya butuh
pembuktian yang paradoks juga, diluar wacana terorisme atau pun isu pembajakan.
Langganan:
Postingan (Atom)


