Literatur sejarah lebih banyak diwarnai dengan pemikiran
dari luar. Salah satu referensi dan jadi
acuan lebih banyak berasal dari Belanda, terutama tema politik abad ke-19.
Buku "Para Penguasa Ajatappareng :
Refleksi Sejarah Sosial Politik Orang Bugis" hadir untuk mengurai
kesunyian literatur sejarah yang ditulis oleh orang bugis.
"Yang tahu tentang bugis adalah bugis itu
sendiri," ujar Dr. Abd. Latif (24/9/2014), di saat peluncuran bukunya di
Aula Prof. Mattulada Kampus Unhas Tamalanrea. Klaim penulis, yang unik dari
buku ini adalah 90% menggunakan lontara.
Istilah "Lontara" diasosiasikan pada literatur
mengenai sejarah dan geneologi masyarakat bugis. Meski mencakup jumlah halaman yang mencapai 6000 lembar, kerap dibumbui dengan
mitos-mitos. Maka menurut Dr. Abd.Latif, tugas sejarahwan untuk melihat apa
yang pernah berlaku di daerah.
Supratman (Supa Athana), salah seorang pembahas, mendukung buku
ini atas penggunaan lontara. Karena ini menyangkut jati diri dan karakter bangsa.
Meski buku ini lebih bernuansa politik, menurutnya, buku ini adalah produk
kebudayaan dan memberinya label sebagai karya
sosiologi sastra. Sosiologi sastra sendiri adalah jenis pendekatan pada sastra yang mempunyai paradigma
dengan implikasi epistimologis yang berbeda dengan yang sudah ada.
Pandangan berbeda atas buku ini coba di urai Prof.
Suryadi Mappangara, salah seorang Guru besar Fak. Satra yang juga menjadi
pembahas buku. Dengan berseloroh, “ susah untuk menilai objektifitas, karena
saya ada dalam bingkai itu.” Dia memberi penilaian skeptis atas penulis buku
ini, karena tabu akan literatur dari luar.
“Sejarah bukan cuma yang ditulis, tapi juga
sejarah yang dipikirkan orang,” ungkap Prof. Suryadi. Karena sejarah mengandung peristiwa dan kisah
di dalamnya, maka penggunaan lontara didalamnya harus bisa menjawab alasan
ilmiah dari berbagai versi lontara yang ada. Pemikiran ini dipahami, karena sejarah
banyak diwarnai intrik dan rekayasa dalam
penulisannya.
Dalam pandangan akademis, buku ini patut
diapresiasi sebagai karya ilmiah. Ilmu pengetahuan dan pengetahuan sejarah akan
selalu mengalami penyempurnaan dari waktu ke waktu. Pengetahuan sejarah selalu
dilihat dimana keberadaan manusia dilahirkan. Maka tentu tidak salah sudut
pandang penulis buku ini, untuk melihat bugis dengan dirinya sendiri.
Wahyuddin Junus,
Penggiat Diskusi Masika ICMI Sulsel.
tulisan ini juga dapat dijumpai di makassar trend di sini ...
tulisan ini juga dapat dijumpai di makassar trend di sini ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar