#navbarsecond { border-bottom: 1px solid gainsboro; height: 30px; padding-left: 50px; } #navbarsecond ul li { float: left; list-style-type: none; padding-right: 40px; font-size: 14px; }

Jumat, 26 September 2014

Melihat Bugis Dengan Dirinya Sendiri



Literatur sejarah lebih banyak diwarnai dengan pemikiran dari luar. Salah satu referensi  dan jadi acuan lebih banyak berasal dari Belanda, terutama tema politik abad ke-19. Buku  "Para Penguasa Ajatappareng : Refleksi Sejarah Sosial Politik Orang Bugis" hadir untuk mengurai kesunyian literatur sejarah yang ditulis oleh orang bugis.

"Yang tahu tentang bugis adalah bugis itu sendiri," ujar Dr. Abd. Latif (24/9/2014), di saat peluncuran bukunya di Aula Prof. Mattulada Kampus Unhas Tamalanrea. Klaim penulis, yang unik dari buku ini adalah 90% menggunakan lontara.

Istilah "Lontara" diasosiasikan pada literatur mengenai sejarah dan geneologi masyarakat bugis. Meski mencakup jumlah halaman yang mencapai 6000 lembar, kerap dibumbui dengan mitos-mitos. Maka menurut Dr. Abd.Latif, tugas sejarahwan untuk melihat apa yang pernah berlaku di daerah. 

Supratman (Supa Athana), salah seorang pembahas, mendukung buku ini atas penggunaan lontara. Karena ini menyangkut jati diri dan karakter bangsa. Meski buku ini lebih bernuansa politik, menurutnya, buku ini adalah produk kebudayaan dan memberinya label sebagai  karya sosiologi sastra. Sosiologi sastra sendiri adalah jenis pendekatan pada sastra yang mempunyai paradigma dengan implikasi epistimologis yang berbeda dengan yang sudah ada.

Pandangan berbeda atas buku ini coba di urai Prof. Suryadi Mappangara, salah seorang Guru besar Fak. Satra yang juga menjadi pembahas buku. Dengan berseloroh, “ susah untuk menilai objektifitas, karena saya ada dalam bingkai itu.” Dia memberi penilaian skeptis atas penulis buku ini, karena tabu akan literatur dari luar. 

“Sejarah bukan cuma yang ditulis, tapi juga sejarah yang dipikirkan orang,” ungkap Prof. Suryadi.  Karena sejarah mengandung peristiwa dan kisah di dalamnya, maka penggunaan lontara didalamnya harus bisa menjawab alasan ilmiah dari berbagai versi lontara yang ada. Pemikiran ini dipahami, karena sejarah banyak diwarnai  intrik dan rekayasa dalam penulisannya.

Dalam pandangan akademis, buku ini patut diapresiasi sebagai karya ilmiah. Ilmu pengetahuan dan pengetahuan sejarah akan selalu mengalami penyempurnaan dari waktu ke waktu. Pengetahuan sejarah selalu dilihat dimana keberadaan manusia dilahirkan. Maka tentu tidak salah sudut pandang penulis buku ini, untuk melihat bugis dengan dirinya sendiri.

Wahyuddin Junus, Penggiat Diskusi Masika ICMI Sulsel.
tulisan ini juga dapat dijumpai di makassar trend di sini ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar