#navbarsecond { border-bottom: 1px solid gainsboro; height: 30px; padding-left: 50px; } #navbarsecond ul li { float: left; list-style-type: none; padding-right: 40px; font-size: 14px; }

Rabu, 10 November 2010

Berburu Shaff Terdepan oleh Wahyuddin JUnus

Seorang lelaki paruh baya sedang duduk dibaris (baca: shaff) terdepan salah satu masjid di kota suci Makkah. Menjelang shalat Ashar, tiba-tiba dia mundur ke belakang di saat seseorang datang menghampiri tempat duduknya. Hanya dengan satu sentuhan tangan, tempatnya sudah digantikan oleh orang tadi. Dia telah duduk di tempat itu sejak selesai shalat Dhuhur. Diam-diam ada orang yang memperhatikannya dan coba menghampirinya. “Mengapa Anda mundur dan memberikan tempat pada orang tadi?” tanyanya setengah berbisik sambil menunjuk orang yang telah menempati tempatnya. “Karena dia yang punya tempat tersebut” ujar lelaki tersebut. Karena penasaran ditanyakan pada lelaki itu, “Sebenarnya siapa orang itu? Ungkapnya. “Dia adalah bos saya” balas lelaki itu dengan enteng. “Dia telah menggaji sebesar 3 (tiga) Riyal untuk duduk dishaff paling depan masjid ini sampai dia datang untuk melaksanakan shalat berjamaah” ungkapnya.
Konon di tanah Arab saking sibuknya orang berduit serta bergelimang harta sampai harus mengeluarkan isi kantongnya dengan memakai jasa ‘penjaga shaff’, hanya untuk bisa shalat berjamaah dimasjid pada saf paling depan. Begitu pentingnya shalat berjamaah bagi hampir sebagian orang Arab, apatah lagi dilakukan dishaff paling depan. Kesibukan para kaum berduit dinegara itu mengharuskannya menggunakan bantuan orang lain hanya untuk mendapatkan di masjid tempat di shaff paling depan.
Naluri spiritual dan etos sosial dengan memakai jasa orang tak berpunya tampak dikedepankan. Bagi mereka menempati shaff terdepan begitu bernilai. Memperebutkan tempat dishaff paling depan begitu lumrah di sana. , Lantas, ditempat kita gimana? Atau disekitar masjid tempat tinggal kita? Di saat musin Pemilu, apakah itu pilkada, pemilihan caleg, atau pun pilkades, kerap orang berlomba-lomba untuk maju. Tampil digarda terdepan hanya untuk meraup suara yang banyak. Berapa banyak biaya yang harus mereka keluarkan hanya untuk menjadi seorang pemenang? Mungkin mengejar posisi shaff terdepan belum menjadi keharusan. Perlombaan diranah politik praktis masih menjadi candu yang mengasyikan untuk diraih. Dan itu tak jauh. Di sini.(Renungan Hari ini, Jum'at 29 Oktober 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar