#navbarsecond { border-bottom: 1px solid gainsboro; height: 30px; padding-left: 50px; } #navbarsecond ul li { float: left; list-style-type: none; padding-right: 40px; font-size: 14px; }

Senin, 15 November 2010

Maya, marilah kita bersikap dewasa oleh Wahyuddin Junus

Bagiku Maya adalah pribadi yang hidup di tiga ‘tempat’ yang berbeda, namun bersatu dalam kata manusia. Ia memiliki sikap tersendiri dalam mengungkap rotasi hidup. Berayun diantara mood gembira penuh ketertarikan pada hidup dan sesekali menemui jebakan depresi keputus-asaan yang kerap menyapa. Tubuhnya bak atlet, mukanya membaja. Tetapi tertutupi oleh kualitas senyumannya. Ia cukup mobile. Cepat akrab dengan orang lain. Tidak suka suasana formal, mudah menolong dan kelihatannya sedikit di atas feminin.
Hidup di dunia bagai menggendong materi dan pesan yang berat. Sebagian dari kita akan mencoba safety, mencari posisi aman. Tetapi Maya dengan aktivitas ekstrakurikulernya coba bermain dengan tantangan. Dengan menenggelamkan diri di UKM dan berada dalam hubungan empati kemanusiaan. Paling tidak menyedot perhatian ekstra untuk sebuah pilihan emosi.
Diluar kerumitan hidup, pertanyaan-pertanyaan sederhana kerap menggema. Dapatkah ia menjadi solusi ditengah penantian panjang yang membosankan menjelang kematian? Pada akhirnya secara intelektual Maya harus menjawab pertanyaan hidupnya. Sesuatu yang diperjuangkan dan dibela haruslah menjadi latihan fisik secara intensif.
Hidup memang tak pernah mudah dipahami. Dan memang ia tak dapat dipahami. Apakah hidup merupakan jawaban? Mungkin jawaban tapi pertanyaan? Barangkali juga pertanyaan sekaligus jawaban. Sepertinya Maya bermain-main untuk sebuah multiple choise hidup. Pengetahuan ‘Maya’ boleh jadi menjadi motivasi hidup yang tak pernah mati. Maya, bias berarti imajinasi, khayalan, atau bayangan. Potret penggambaran transisi dan antara.
Memahami hidup tak luput dari cerita The Hours. Film ini bagi sebagian penonton tak lebih dari pertunjukan artistik yang membingungkan, pretensius dan cuma berada dipermukaan. Kedalaman hidup mengharuskan manusia menyelami lautan ilmu. Karena kehidupan merupakan surat yang cukup hanya dibaca, tapi meresapi maknanya. Pemaknaan itu membuka pintu-pintu hati.
Di sana terjadi proses interaksi manusia dengan alam. Mampu menangkap bahasa Tuhan dalam gerak alam semesta. Persoalannya, apakah kita hanya mampu menjadi penonton untuk film kita. Bukankah manusia harus mati, agar bisa lebih menghargai hidup. Namun cerita hidup menjadi indah bila di sana ada praktek. Ada pengamalan. Mengaplikasikan ilmu dalam hidup.
Bagiku, Maya telah menjadi sosok cerapan inderawi manusia. Pun pepatah Latin, Non Scholae Sed Vitae Discimus, kita belajar untuk hidup, bukan untuk sekolah. Karena mendengar manusia lupa. Karena melihat jadi ingat. Dan melakukan akan mengerti. Bagaimana pun pesan ini tak akan bernilai tanpa kearifan dan kedewasaan. Hanya satu pintaku pada Maya, marilah kita bersikap dewasa.
Sebuah refleksi ‘Ilmu Dalam Persfektif’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar