#navbarsecond { border-bottom: 1px solid gainsboro; height: 30px; padding-left: 50px; } #navbarsecond ul li { float: left; list-style-type: none; padding-right: 40px; font-size: 14px; }

Jumat, 07 Maret 2014

Saya Menulis Untuk Tidak Menulis


Dengan menulis saya menjadi hidup. Dengan menulis pula saya akan mati. Mungkin, sebuah cara indah untuk hidup dan mati. Inspirasi itulah yang membuat tulisan ini hadir. Eksplorasi akan kedirian insan, mengharuskan tulisan ini ada. Mungkin terkesan sentimentil, tapi setidak-tidaknya perubahan dimaknai sebagai sesuatu yang bergerak dinamis. Pendeknya, ‘dimulai dari menulis.’

Masing-masing manusia mempunyai kepribadian tertentu. Paling tidak, yang cocok untuk melayani pikiran-pikirannya. Menulis dianggap paling sering mengikuti suasana hati penulisnya. Kondisi ini membuat alur berpikir dan perasaan berkelabat, menyatu dalam sebuah tulisan. Namun, tak dipungkiri, ada yang melihat tulisan bermusuhan dengan penulisnya, tapi paling tidak, kita melihat pekerjaan menulis adalah usaha membuat penulisnya bertanggung jawab pada tulisannya.


Konsekuensi berdimensi ganda pada manusia memberi artikulasi, bahwa tulisan itu hendaknya tidak bersekongkol dengan penulisnya. Tidak berarti pula bahwa penulis berperang melawannya. Dilema suasana, ‘penulis harus membuatnya bertanggung jawab’. Maksimal bertanggung jawab kepada pembacanya. Minimal bertanggung jawab kepada pikirannya.

Hal lain peran sebagai penulis itu adalah membuat orang sadar akan diri mereka, lingkungannya dan perubahan yang sedang dan akan terjadi. “Jika kita tak takut tangan kotor, kita dapat belajar banyak dengan bekerja,” ungkap Tallman, salah seorang pemilih penerbitan Press-Republican. Kadang-kadang penulis mendapati dirinya berhadapan dengan prinsip-prinsip yang ada dalam masyarakat, padahal penulisnya jarang atau sama sekali tidak melibatkan perasaan mereka.

Satu pertanyaan mendasar, yang mungkin muncul : seandainya manusia tidak menuangkan pikiran dan perasaannya, dan pada saat itu ia harus memutuskan untuk ‘marah’? Tapi, jika ia memang sudah marah dan tidak tahu kepada siapa lagi harus mengadu ? Mungkin dengan merasa nyaman untuk hidup, semua masalah aku lemparkan ke dalam tulisan, dan berbuah ‘Saya Menulis Untuk Tidak Menulis’.

Salama’ki

3 komentar:

  1. Selamat Sore Kanda Didin.
    Salam dari Manado.

    BalasHapus
    Balasan
    1. di sini sdh malam bro....
      ini dg lukman bahri ya...
      skrg stay di manado ya ?

      Hapus
    2. iya Senior..
      sekarang di manado sdh sore lagi... :D

      Hapus